Independent Learning

Commentby: Uwes A. Chaeruman on: July 9th, 2007

Apa yang Dimaksud dengan Independent Learning?

Ada beberapa istilah yang mengacu pada pengertian yang sama tentang belajar mandiri. Istilah-istilah tersebut adalah 1) independent learning, 2) self-directed learning dan 3) autonomous learning (Candy, Philip C., “Independent Learning: Some Ideas from Literature”, (<http://www. brookes.ac.uk/ services/ocsd/2_learntch/independent.html>). Sementara itu, Wedemeyer (1973) dalam Keegan (1990) menjelaskan belajar mandiri sebagai pembelajaran yang merubah prilaku, dihasilkan dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pebelajar dalam tempat dan waktu berbeda serta lingkungan belajar yang berbeda dengan sekolah. Pebelajar mungkin dibimbing oleh guru tapi tidak tergantung kepada mereka. Pebelajar menerima derajat kebebasan dan tanggung jawab dalam merencanakan dan melakukan kegiatan-kegiatan yang mendorong kearah terjadinya belajar. Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dikatakan bahwa bahwa belajar mandiri merupakan cara belajar tertentu yang berbeda dengan sekolah (konvensional), baik dari segi tempat dan waktu, lingkungan belajar, maupun keberadaan guru. Pebelajar mungkin dibimbing oleh guru, tapi tidak sepeneuhnya tergantung kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa tersapat cara belajar lain, yaitu belajar mandiri yang bertujuan sama (untuk merubah prilaku) tapi dilakukan dengan cara yang berbeda. Belajar mandiri lebih berorientasi kepada pebelajar dimana pebelajar mempunyai kebebasan dan tanggung jawab yang besar untuk mengendalikan belajarnya sendiri.

Lebih jauh, Wedemeyer menjelaskan bahwa belajar mandiri terdiri atas berbagai ragam bentuk situasi belajar-mengajar, dimana guru dan pebelajar melakukan tugas-tugas dan tanggung jawab utamanya secara berbeda satu sama lain dan berkomunikasi dengan berbagai ragam cara. Tujuannya adalah untuk: 1) membebaskan “on-campus” atau pebelajar internal dari ketidaksesuaian penempatan atau pola kelas, 2) memberikan “off-campus” atau pebelajar eksternal peluang-peluang untuk melanjutkan belajar sesuai dengan lingkungannya, dan 3) mengembangkan kapasitas/kemampuan untuk mengarahkan belajarnya sendiri bagi semua pebelajar yang merupakan kematangan utama orang berpendidikan. Pernyataan ini, secara eksplisit menjelaskan bahwa belajar mandiri dapat terjadi dalam konteks pendidikan konvensional maupun pendidikan jarak jauh (dimana guru dan siswa terpisah). Keduanya,sama-sama memberikan keleluasaan atau kebebasan kepada pebelajarnya untuk mengendalikan belajarnya sesuai dengan kebutuhan maupun situasi dan kondisi yang ada pada dirinya. Dalam hal ini, keberhasilan belajar tentunya akan sangat ditentukan oleh kemampuan belajar mandiri pebelajar itu sendiri.

Rowntree (1992), dengan mengutip penjelasan Lewis dan Spencer (1986) menjelaskan pengertian belajar mandiri dalam konteks pendidikan terbuka. Ia mengatakan bahwa ciri utama dari pendidikan terbuka adalah adanya komitmen untuk membantu pebelajar memperoleh independensi dan kemandirian. Dimana pebelajar mempunyai kemandirian dalam mengambil atau menentukan keputusan sendiri tentang: 1) tujuan atau hasil belajar yang ingin dicapai; 2) mata ajar, tema, topik, atau issu yang akan dipelajari; 3) sumber-sumber belajar dan metode yang akan digunakan; dan 4) kapan, bagaimana serta dalam hal apa keberhasilan belajarnya akan diuji (dinilai). Dalam pengertian ini, pebelajar diposisikan sebagai subyek, pemegang kendali atau pengambil keputusan atas belajarnya sendiri.

Knowles (1975) menggambarkan belajar mandiri sebagai suatu proses dimana individu mengambil inisiatif dengan atau tanpa bantuan orang lain untuk: 1) mendiagnosa kebutuhan belajarnya sendiri; 2) merumuskan/menentukan tujuan belajarnya sendiri; 3) mengidentifikasi sumber-sumber belajar; 4) memilih dan melaksanakan strategi belajarnya; dan 4) mengevaluasi hasil belajarnya sendiri. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa belajar mandiri menekankan pada peran individu sebagai penanggung jawab dan pemegang kendali dalam memenuhi dan mencapai keberhasilan belajar.

Hughes menjelaskan bahwa belajar mandiri lebih dari sekedar pebelajar yang bekerja sendiri. Pebelajar memainkan peran penting dalam memilih atau menentukan arah belajarnya, menemukan sumber-sumber belajarnya, memformulasikan permasalahan belajarnya, memutuskan tindakannya sendiri dan merefleksikannya dengan hasil dari proses tindakannya tersebut. Oleh karenanya, mereka perlu diberikan ruang gerak (kebebasan) sebagai pebelajar mandiri. Namun demikian, ini bukan berarti bahwa untuk mengembangkan kemampuan belajar mandiri, pebelajar harus benar-benar dibiarkan sendiri (diabaikan). Tapi, struktur belajar harus dibangun sedemikan rupa sehingga dapat memberikan pelatihan, dukungan, dan bimbingan dari tutor dan teman sebaya sepanjang proses belajarnya. Penjelasan ini menekankan bahwa belajar mandiri tidak sama dengan belajar sendiri (self-study), tapi harus dipersiapkan struktur yang memungkinkan untuk terjadinya belajar secara mandiri.

Keesten (1987) menjelaskan belajar mandiri sebagai suatu pembelajaran dimana pebelajar, dalam kaitannya dengan orang-orang lain yang relevan, dapat mengambil keputusan yang diperlukan untuk mencapai kebutuhan belajarnya sendiri. Pernyataan ini menjelaskan beberapa unsur dari konsep belajar mandiri. Pertama, kebutuhan belajar adalah tanggung jawab pebelajar itu sendiri. Kedua, pebelajar memegang kendali dalam pengambilan keputusan untuk mencapai kebutuhan belajarnya tersebut. Terakhir, dalam upaya mencapai kebutuhan belajarnya tersebut, mereka secara individu atau kelompok dapat meminta bantuan kepada orang-orang lain yang relevan, seperti guru/tutor, teman dan lain-lain.

Referensi:
Candy, Philip C., “Independent Learning: Some Ideas from Literature”, (<http://www. brookes.ac.uk/ services/ocsd/2_learntch/independent.html>).
Keegan, Desmond, “Foundations of Distance Education”, (London: Routledge, 1990), h. 54.
Rowntree, Derek, “Exploring Open and Distance Learning”, (London: Kogan Page Limited, 1992), h. 61.
Knowless, Malcolm S., “Self-Directed Learning: A Guide for Learners and Teachers”, (Chicago: Association Press: Follet Publishing Company, 1975), h. 18.
Hughes, Peter, “Developing Independent Learning Skills”,
Regina, S.K., “Chapter VII: Independent Learning (dalam Understanding The Common Essential Learnings)”, (http://www.sasked.gov.sk.ca/docs/policy/cels/cl17.html ).

 Viewed 458 times by 126 viewers

share

DeliciousFacebookDigg
RSS FeedStumbleUponTwitter
DeliciousFacebookDigg
RSS FeedStumbleUponTwitter

comments

No CommentTell us what you think...?

Please note: Use of a non-personal web site or blog in the field and/or comments that are off-topic, personal attacks, or support requests will likely be removed at my discretion.