Seperti Apa Posisi Indonesia dalam ICT untuk Pendidikan ?

Commentby: Uwes A. Chaeruman on: August 1st, 2007

Katanya, kalau ingin menuju suatu tempat, kita harus tahu posisi saat ini sudah sampai mana. Bbegitu pula halnya dengan ICT untuk pendidikan. Jika kita ingin menuju seperti apa kondisi ideal ICT untuk pendidikan, alangkah baiknya kita ketahui posisi atau kondisi saat ini. Bukan begitu?

Saya pernah browsing di internet tentang networked readiness dan e-learning readiness index. Ternyata cukup menggemaskan. Ketika melihat e-learning readiness index tersebut saya langsung menulis tentang “URGENSI GERAKAN MELEK ICT“. Baca deh tulisan tersebut!

Berdasarkan survey world economic forum (2005), Networked Readiness Index Indonesia menempati posisi nomor 51 tahun 2004, dan turun menjadi posisi 68 tahun 2005. Nah, tahun 2006-2007 ternyata naik menjadi urutan 62. Lumayaaaan :)

Networked readiness index ini dilihat dari beberapa aspek yang disebut 4C’s Building Block, yang meliputi Conectivity, Capability, Content dan Culture. Artinya, dari sisi konektifitas (seperti infratsruktur ICT, akses internet, keterjangkauan biaya akses internet, dll) masih rendah. Dari sisi kapabilitas seperti ICT literacy, kebijakan ICT baik skala nasional mapun level mikro (sekolah, misalnya) masih belum jelas. Dari sisi content, mmmh saya yakin anda juga setuju memang masih kurang. Sebagai contoh kecil, Depdiknas punya infrastruktur jaringan yang dinamakan JARDIKNAS. Kalau kita ibaratkan Jardiknas sebagai jalan tol besar, maka jalan tol tersebut tidak dilewati oleh kendaraan apapun. Or kalaupun dilewatin, mungkin hanya oleh sebuah truk butut, itupun isinya atau muatannya tidak ada, alias kosong. he he he …. Beirkutnya adalah culture alias budaya. untuk yang satu ini jangan ditanya deh. So, wajarlah kalau hasil survye menunjukkan posisi kita maish level rendah… :)

Sekarang kita lihat e-learning readiness index, berdasarkan hasil survey the economist intelligent unit. Wooooow, lebih menggemaskan lagi. Pengen tahu…..?

Tahun 2000, menempati posisi 38. Tahun 2001, menempati posisi 54. Tahun 2002, naik menjadi posisi 52. Tahun 2003, turun lagi menajdi posisi 53. Tahun 2004, mudun maning menjadi posisi 59. Dan tahun 2005, lagi-lagi terpuruk menjadi posisi 60. Padahal dari 65 negara lho?

Apa yang menyebabkan hal tersebut seperti demikian adanya? Seperti yang diungkapkan oleh Mastel ada beberapa hal yang menjadi isu pokok penyebab rendahnya e-learning readiness di Indonesia. Mulai dari sisi infrastruktur, regulasi dan policy, kesiapan SDM, e-leadership, ketiadaan masterplan atau cetak biru TIK, dan juga pendanaan. Terus harusnya gimana? lagi-lagi saya menyarankan GERAKAN MELEK ICT menjadi GERAKAN NASIONAL, seperti dulu adanya GERAKAN KELUARGA BERENCANA, sehingga dibentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Mungkin perlu pula dibentuk Badan Koordinasi TIK Nasional. Eh udah ada dink, namanya Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DeTIKNas) yang dibentuk melalui Kepres No 20 Tahun 2006. Mudah-mudahan berfungsi dan berjalan dengan baik.

Coba kita lihat posisi dari sisi klasifikasi atau level penerapan ICT untuk pendidikan menurut UNESCO. Seperti apakah gerangan?

UNESCO mengklasifikasikan penerapan ICT untuk pendidikan kedalam 4 level, yaitu level emerging, applying, integrating dan transforming. Menurut bahasa awam, yang dimaksud “emerging” adalah bahwa suatu negara para pemimpin dan pengambil kebijakannya serta masyarakatnya baru menyadari atau ngerasa pentingnya ICT untuk pendidikan, tapi belom ngelakonin apa apa. Applying artinya baru sampe tahap mempelajari penggunaan ICT (learning to use ICT). Integrating maksudnya adalah sudah menggunakan ICT untuk pembelajaran (using ICT to learn). Terakhir transforming, yang artinya menjadikan ICT sebagai katalis reformasi/transformasi pendidikan.

Nah, kalo kite lihat klasifikasi di atas, dimanakah posisi Indonesia? menurut hemat saya, masih berada antara level applying menuju transforming. Kenapa? karena ICT masih dijadikan sebagai mata pelajaran dengan dimasukannya kedalam kurikulum sekolah. Jadi, ICT masih dijadikan sebagai obyek yang dipelajari. Sementara pemanfaatan ICT untuk pembelajaran, masih membutuhkan upaya keras baik untuk menyediakan sarana dan prasarana, peningkatan kompetensi guru dalam ICT, kebijakan ICT untuk pendidikan dan lain-lain. Semuanya masih perlu dibenahi dengan baik…. Seandainya saya menjadi MENDIKNAS, maka akan saya bentuk unit setingkat eselon 1 lagi yang bertugas ngurusin ICT untuk pendidikan, misalnya Badan Teknologi Pendidikan. Toh di Amrik sana yang namanya Badan Teknologi Pendidikan atau Office of Educational Technology, malah langsung dibawah Wakil Presiden. Saat ini ada unit yang mengurusin ICT untuk pendidikan yaitu, PUSTEKKOM, tempat dimana saya bekerja. Tapi, menurut saya tidak dapat ebrbuat banyak, karena levelnya eselon 2 dibawah Sekretariat Jenderal Depdiknas.

References:

Klik di bawah ini:
world economic forum networked readiness index survey
URGENSI GERAKAN MELEK ICT
Klasifikasi Penerapan ICT untuk Pendidikan menurut UNESCO
Isu Pokok dan Program Dirjen APTEL 2006 – 2009

 Viewed 248 times by 107 viewers

share

DeliciousFacebookDigg
RSS FeedStumbleUponTwitter
DeliciousFacebookDigg
RSS FeedStumbleUponTwitter

comments

No CommentTell us what you think...?

Please note: Use of a non-personal web site or blog in the field and/or comments that are off-topic, personal attacks, or support requests will likely be removed at my discretion.