Logo Background RSS

» Pentingnya Needs Assessment dalam Pelatihan

  • Written by Uwes A. ChaerumanUwes A. Chaeruman No Comments Comments
    Last Updated: September 12th, 2007

    LPMP, Semarang, 9 September 2007 …
    Adalah suatu pengalaman menarik yang membawa hikmah untuk saya dan mungkin Anda, atau khususnya bagi mahasiswa teknologi pendidikan terkait dengan desain pelatihan. Saat itu saya diminta sebagai salah seorang narasumber dalam pelatihan pengembangan bahan belajar berbasis ICT untuk para guru SMA, sekitar 50 orang peserta. Seperti biasa, saya sharing info tentang apa dan bagaimana multimedia pembelajaran dikembangkan dan bagaimana mengintegrasikan ICT dalam proses pembelajaran.

    Dalam satu sesi tanya jawab, salah seorang peserta bertanya:

    “Nuwun sewu pak, sebenarnya arah pelatihan ini kami akan dibawa kemana?”

    Sejenak saya terhenyak, dan berpikir. Kemudian secara diplomatis saya menjelaskan bahwa pelatihan tersebut adalah dalam rangka “advocacy” menggalakan dan menyadarkan pentingnya ICT untuk pembelajaran. Diharapkan setelah pelatihan, guru semakin “aware” akan hal tersebut.

    Hikmah apa yang bisa kita tarik dari kejadian tersebut? Inilah pentingnya analisis kebutuhan dalam pelatihan. Dalam mendesain suatu pelatihan, khususnya untuk orang dewasa seperti dalam kejadian tersebut, apa yang kita latihkan harus benar-benar merupakan suatu pengetahuan, keterampilan atau mungkin sikap yang benar-benar mereka butuhkan. Bukan sekedar informasi, atau keterampilan yang menurut kita baik, bagus untuk dimiliki oleh peserta. Hal ini menunjukkan kepada kita semua bahwa banyak sekali pelatihan yang diselenggarakan atas dasar asumsi peserta perlu keterampilan sesuatu menurut penyelenggara pelatihan, padahal dirinya sendiri tidak merasa butuh. Dalam kasus di atas, penyelenggara merasa perlu guru memperoleh keterampilan bagaimana mengunakan adobe phot0shop dan membuat animasi dengan macromedia flash sehingga perlu diberikan pelatihan tersebut. Padahal bagi mereka (peserta), hal tersebut bukan merupakan suatu kebutuhan.

    Disamping itu, dalam pelatihan kita juga harus menerapkan prisnip belajar orang dewasa. Apakah itu dan bagaimana konsekuensinya dalam pelatihan?

  • applicable to real-life context; implikasinya, pelatihan harus dapat diaplikasikan oleh peserta dalam kehidupan atau kegiatan kerjanya sehari-hari;
  • past + present experiences; implikasinya, dalam pelatihan, pengalaman peserta hendaknya dijadikan sebagai sumber belajar, bahan diskusi atau menjadi bahan studi kasus untuk dibahas bersama. Lebih baik lagi terjadi sharing pengalaman antar peserta;
  • relevant to the job in the workplace; implikasinya, topik pelatihan harus spesifik dan terkait langsung dengan tugas kerjanya sehari-hari;
  • need active involvement and conducive climate; implikasinya, peserta harus banyak terlibat aktif disertai dengan nuansa dan suasana yang ramah, nyaman, dan menyenangkan;
  • dan

  • Successfull; implikasinya, peserta harus benar-benar merasa berhasil atau merasa bisa setelah mengikuti pelatihan.
  • Demikian, hikmah yang dapat kita ambil dari pengalaman saya memberikan pelatihan. Selamat berdjoeang dan tetap merdeka!

Leave a Comment