Logo Background RSS

» e-Learning: antara “e” dan “learning”, jangan lupakan “learning”

  • Written by Uwes A. ChaerumanUwes A. Chaeruman 24 Comments24 Comments Comments
    Last Updated: October 31st, 2007

    Yogyakarta, 30 Oktober 2007

    Kali ini, saya berkesempatan terbang ke negeri “Mbah Marijan”, untuk seperti biasa berbagi pemikiran tentang pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran. Pasalanya, Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan, Dinas Pendidikan Provinsi DI Yogyakarta mengadakan Pelatihan Peningkatan Pemenfaatan TIK untuk Guru di kota pelajar tersebut.

    Video show, e-Life style in USA saya tunjukkan kepada peserta yang sebagian besar adalah guru plus Kepala Sekolah. Menggambarkan betapa keberadaan ICT alias TIK telah berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan manusia sehari-hari. ICT memainkan fungsinya sebagai sarana informasi, pendidikan dan hiburan. Sayangnya, dalam konteks negeri kita tercinta ini, ICT lebih banyak kita manfaatkan untuk fungsi hiburan. Lihatlah kenyataan betapa remaja (gak juga seh, termasuk orang tua dan anak2) saat ini lebih senang memanfaatkan internet untuk bermain game atau chatting gak karuan selama berjam-jam.

    Ini menunjukkan bahwa ICT bagaikan pisau bermata dua, bisa menguntungkan dan sebaliknya malah bisa sangat merugikan. Menguntungkan, dalam konteks pendidikan, jika pemanfaatannya diarahkan dan atau dikondisikan sebagai sarana hiburan, pendidikan dan informasi secara seimbang alias proporsional. Merugikan, jika tidak diarahkan atau dikondisikan alias didesain sedemikian rupa sehingga terintegrasi secara utuh dalam proses pembelajaran. Apa lagi jika anak atau siswa kita biarkan begitu saja.

    Berikut adalah contoh upaya pengkondisian pemanfaatan ICT dalam pembelajaran oleh guru. Dalam mata pelajaran Biologi katakanlah. Guru menugaskan kepada siswa (individu atau kelompok) untuk browsing di internet tentang cara kerja jantung. Kemudian siswa tersebut diminta menuliskan dan memvisualisasikan hasil pencarian informasi tersebut kedalam bentuk slide presentasi (katakanlah dengan MS Powerpoint atau sejenisnya) dan menyajikannya di depan teman sekelasnya. Dengan strategi seperti ini maka secara tidak langsung kita telah membangun keterampilan abad 21 kepada mereka. Apa sajakah itu? Pertama, secara tidak langsung “ICT and media literacy” siswa terasah, yaitu dia mampu mencari informasi, mengolah dan menyajikan informasi dengan cara tertentu yang unik dan otentik, mendistribusikan (sharing) ke teman lain melalui berbagai channel, dan lain-lain. Kedua, secara tidak langsung kemampuan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah (problem solving), kemampuan bekerja secara kolaboratif akan terbangun pula pada diri siswa. Terakhir, secara sadar atau tidak, siswa tersebut mengalami yang namanya proses atau peristiwa belajar secara personal.

    Point terakhir itulah yang paling penting. Kenapa? Jujur, para guru itu mangakui, bahwa sebagian besar waktu belajar dalam sehari di sekolah (sekitar 5,5 jam), yang seharusnya lebih banyak diberikan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar, habis dirampas oleh guru hanya untuk menerangkan pelajaran. Dengan kata lain, sebagaian besar guru berperan sebagai “pencekok informasi” (information dispencer). Tidaklah heran, sebagaian besar siswa lemah dalam keterampilan berpikir kritis, problem solving, bekerja secara kolaboratif de el el, karena sebagian besar waktu emasnya di sekolah dihabiskan untuk datang, duduk, dengar dan pulang.

    Berdasarkan asumsi tersebut, saya mengajak dan menganjurkan kepada semua guru (khususnya ketika pelatihan tersebut) untuk tetap berpegang teguh pada prinsip pembelajaran, apapun teknologi dan atau media yang digunakan. Kenapa? Karena khawatir ketika bicara e-Learning atau pendayagunaan media elektronik untuk efektifitas, efisiensi dan kemenarikan pembelajaran hanya berfokus pada kata “e” dan melupakan “learning”nya itu sendiri. Banyak sekolah yang berlomba-lomba melengkapi sekolahnya dengan fasilitas ICT, tapi pemanfaatannya tidak sesuai dengan kebutuhan. Atau banyak media elektronik yang bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran tapi belum dioptimalkan. Misalnya, sekitar sekolah banyak Warnet, tapi siswa secara individu atau kelompok tidak diarahkan melalui tugas atau apa saja untuk memanfaatkan warnet tersebut. Atau di sekolah ada LCD Projector plus Laptop, tapi lebih banyak digunakan oleh guru untuk menjelaskan pelajaran. Begitu kira-kira. Waktu saya bicara tentang ini, peserta sih ngangguk-ngangguk yang saya terjemahkan sebagai setuju.

    Sebagai kesimpulan, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa teknologi dapat membuat suatu perbedaan yang signifikan terhadap sesuatu. Justeru yang membuat pengaruh atau perbedaan yang signifikan adalah pemanfaatan yang tepat dari teknologi tersebut untuk kebutuhan tertentu. Mau contoh? Keberadaan LCD Projector plus satu laptop dalam satu kelas tidak akan membawa perubahan yang berarti jika hanya digunakan oleh guru untuk menjelaskan pelajaran. Hasilnya akan sama dengan jika guru tersebut mengajar dengan tanpa bantuan media tersebut. Tapi akan jauh membawa perubahan yang berarti jika siswa diberi kesempatan untuk memanfaatkan teknologi tersebut untuk mengungkapkan ide dan pengetahuannya kepada teman-temannya yang lain. Ketika teknologi tersebut hanya dimanfaatkan oleh guru untuk mengajar, maka siswa hanya akan memperoleh pengetahuan tentang apa yang diajarkan dan sedikit mungkin gambar atau ilustrasi yang lebih menarik dan konkrit, itupun jika slide presentasi yang dibuatnya baik. Tapi, ketika dimanfaatkan siswa untuk mempresentasikan ide dan pengetahuannya kepda kawan-kawannya yang lain, maka siswa lain akan memperoleh pengetahuan, dan siswa yang berkesempatan menggunakan teknologi tersebut secara tidak langsung mengasah atau meningkatkan ICT literacy mereka dan kemampuan berpkir kritis, problem solving dan lainnya.

    Disamping itu, sebagai bukti bahwa kata “learning” lebih penting dari pada hanya kata “e” saya menunjukan juga video tentang contoh strategi pembelajaran yang dipake oleh salah seorang guru teladan di London, Inggris yang telah memanfaatkan berbagai metode dan media (bukan teknologi maju). Nyatanya, dengan metode diskusi, simulasi, problem based learning, dan praktek disertai media sederhana mampu melibatkan aktif semua siswa dalam proses pembelajaran.

    Anda dapat mendownload bahan presentasi saya disini:

24 Comments
  1. #1 Ardianto
    November 7th, 2007 at 3:22

    Wah ternyata link-ini nyambung ke Blog-nya pak Wes yah…ok jg ^_^

    memang kalo kita cermati keberadaan e-learning di indonesia masih kurang dimaksimalkan…dan bener jg niy kata pak Wes, pemanfaatan e-learning saat ini seolah-olah memang hanya menjurus pada makna ‘e’ itu sendri dan makna learningnya terkesan hanya sebagai ‘pemenuhan kewajiban’ oleh guru…mungkin salah satu penyebabnya karena gurunya sendiri kurang faham ya?

    Padahal Indonesia berpotensi sekali dalam hal e-learning ini
    huhuhu…misalnya pada program pendidikan kesetaraan yang lebih menekankan pada belajar mandiri, kalo e-learning di terapkan secara sungguh-sungguh (seperti penggunaan cyber textbook atau yg lainnya) niscaya kata-kata ’setara’ itu bukan hanya sekedar pengakuan politis saja…tapi bisa jadi malah setara beneran…wehehehe…mungkin ngga ya???

    Post ReplyPost Reply
  2. #2 Arnol
    January 27th, 2008 at 4:43

    Learning nya ini yg sering sya lupa, o y saya coba buat m-learning , dukung y

    Post ReplyPost Reply
  3. #3 arani
    February 5th, 2008 at 9:39

    Perampasan aktivitas belajar siswa merupakan hal yang awam bagi sistem pendidikan kita. Saat belajar terjadi sebagai sebuah proses internalisasi suatu konsep oleh seorang siswa, guru cenderung minim memperhatikan keberadaan internalisasi ini. Perlu kita garis bawahi proses internalisasi itu sendiri rasanya jarang sekali dikenal di lingkungan para pendidik. Hanya Allah yang Maha Tahu..

    Post ReplyPost Reply
  4. #4 teh muti
    May 7th, 2008 at 10:27

    saya rasa semua media akan berpengaruh pada pembelajaran, hanya saja pengaruhnya yang seperti apa? apakah menjadi mudah untuk belajar, atau menjadikan senang dalam suasana belajar ataukah menjadikan apa? jadi, kita luruskan lagi agar pengaruhnya tidak melenceng dari apa yang kita harapkan.

    Post ReplyPost Reply
  5. #5 Uwes Anis Chaeruman
    May 7th, 2008 at 12:05

    yap. saya juga setuju. yang penting TIK tersebut hanyalah sebagai media untuk mempermudah atau mebuat pembelajaran lebih menarik …

    Post ReplyPost Reply
  6. #6 vie
    June 25th, 2008 at 4:39

    Kenyataan memang demikianlah produksi pendidikan di Indonesia,program peningkatan ICT oleh pemerintah tidak didukung dengan pemberdayaan penggunanya. Tulisannya menarik,hal ini juga yang sering saya sampaikan pada guru2 dan sejawat,sayangnya cuma sebatas bicara, kerena mereka melakukan hal yang sama dengan forum p wes…angguk-angguk:)

    Post ReplyPost Reply
  7. #7 poupee
    July 1st, 2008 at 7:55

    Bapak Uwes, saya sangat tertarik mengenai e-learning. Tapi masih belum “terbayang” seperti apa e-Learning itu?. Sedikit yang saya tahu yaitu e-Learning merupakan pembelajaran menggunakan media elektronik (betul gak yah? ^_^’).. Sebenarnya di Indonesia ini (khususnya jakarta saja), apakah ada sekolah yang benar-benar telah menerapkan e-Learning? Saya juga berniat menggunakan e-Learning ini menjadi tema besar skripsi saya. Mohon bantuannya ya Pak!

    Post ReplyPost Reply
  8. #8 Uwes Anis Chaeruman
    July 1st, 2008 at 9:21

    coba, SMA BPK Penabur. Kalo gak salah udah. Ada juga di SMAN 1 Ciawi. Tapi memang belum ada yang fully e-learning. Semua masih konvensional …

    Post ReplyPost Reply
  9. #9 agusampurno
    July 22nd, 2008 at 7:44

    Memberi pencerahan dan paradigma baru itulah hal yang saya dapatkan dari blog Pak Uwes.
    Keep writing Pak..

    Post ReplyPost Reply
  10. #10 jeng eni
    August 12th, 2008 at 2:47

    we e e…
    saya termasuk korban demam e learning, tapi mahasiswa saya tampaknya masih berat buat makan harian dan bayar kost2an ketimbang ber e learning. jadi wal hasil dari satu kelas 30% saja yang aktif. itupun karena ancaman nggak lulus.. hehe he.
    siapa yang kurang sadar diri coba? yaa jadi guru harus punya seribu cara biar murid pinteeeerrrrr

    Post ReplyPost Reply
  11. #11 Uwes Anis Chaeruman
    August 12th, 2008 at 7:19

    30% termasuk bagus jeng. Luamyan untuk gerakan sadar melek ICT. mengenai cara memang harus sedemikian rpa kita kreatif mencari cara tertentu…….

    Post ReplyPost Reply
  12. #12 umar said
    August 26th, 2008 at 3:03

    Assalamulaikum W.W

    Mas uwes saya umar said dari garuda indonesia salah satu siswa anda beberapa tahun yang lalu mohon informasi mengenai TNA dan PTA apakah masih punya waktu untuk sharing dengan kami.dengan meteri tersebut .
    Terima kasih atas waktunya.

    Best regards

    Umar said

    Post ReplyPost Reply
  13. #13 okko falah
    November 7th, 2008 at 1:17

    pa, definisi cyber textbook ntu apa ya pak?tolong dijawab..bls cpt..

    Post ReplyPost Reply
  14. #14 Orok Menes
    November 10th, 2008 at 9:49

    Okko, cyber ntu sama dengan dunia maya. maka cyber textbook adalah buku teks yang ada di dunia maya. Artinya sama dengan elektronik book (e-book). Contohnya adalah buku2 dalam bentuk pdf atau html. Contohnya di Indonesia dianataranya adalah http://bse.depdiknas.go.id atau yang luar misalnya http://howstuffworks.com

    Post ReplyPost Reply
  15. #15 okko falah
    November 14th, 2008 at 12:52

    ada tidak pak,contoh-contoh penelitian dari cyber textbook ini?atau pengertian yang lebih spesifik lagi?terima kasih…oya, ada rujukan situs atau buku mengenai hal ini?

    Post ReplyPost Reply
  16. #16 Orok Menes
    November 14th, 2008 at 3:27

    hmmm oke ko, let’s see

    Post ReplyPost Reply
  17. #17 rosihan
    December 13th, 2008 at 7:25

    belajar tidak boleh ada contrains, termasuk belajar dari artikel pak Uwes, tks Pak

    Post ReplyPost Reply
  18. #18 Uwes A. Chaeruman
    December 15th, 2008 at 10:38

    kembali kasih pak. mudah-mudahan bermanfaat

    Post ReplyPost Reply
  19. #19 tatamulya
    December 24th, 2008 at 3:29

    Pak Uwes,

    kalau boleh saya bergabung ….
    tatamulya@yahoo.co.id

    B3/17

    Post ReplyPost Reply
  20. #20 ledy
    January 17th, 2009 at 8:48

    Iya, bener juga Pak…

    Post ReplyPost Reply
  21. #21 Arief AM
    April 21st, 2009 at 9:39

    tulisannya cukup inspiratif dan fresh… lanjut terus pak..

    Post ReplyPost Reply
  22. #22 Uwes A. Chaeruman
    April 21st, 2009 at 11:53

    Siap! Terima kasih.

    Post ReplyPost Reply
  • Trackback: e-Learning antara “e” dan “learning” | Tpers Dot Net Trackbacks
  • Trackback: Distance Learning vs e-Learning | Tutorial Gratis Teknologi Pendidikan Trackbacks
  • Leave a Comment