Logo Background RSS

» Pola Pendidikan Baru Menurut Montessori

  • Written by Uwes A. ChaerumanUwes A. Chaeruman 3 Comments3 Comments Comments
    Last Updated: March 5th, 2008

    saya kira ini bagus untuk dibagi disini. Saya baca-baca buku Montessori dan tertarik dengan ide-idenya. So lihat dah kesimpulan saya tersebut.

    Pemikiran Maria Montessori telah memberikan kontribusi yang besar terhadap revolusi pendidikan dewasa ini. Ia menganggap bahwa anaklah yang membangun orang dewasa bukan orang dewasa yang membangun anak. Anak makhluk yang konstruktif yang memerlukan bantuan orang dewasa agar perkembangannya optimal. Pendidikan yang selama itu terjadi dalam pandangan Montessori, telah membelenggu perkembangan anak. Guru dan orang dewasa yang egosnetris, otoriter, dan berperan sebagai ahli adalah merupakan kekeliruan besar.

    Hal tersebut di atas menyebabkan ia menekankan perlunya pola pendidikan baru, yaitu sistem pendidikan sejak usia dini yang sesuai dengan perkembangan anak dimana peran orang dewasa sangat penting dalam membantu perkembangan mereka secara optimal. Berikut adalah pokok-pokok pikiran (asumsi) Maria Montessori yang menegaskan perlunya pendidikan pola baru tersebut.

    Pendidikan Pola Baru adalah Pendidikan yang Memfokuskan pada Anak dan Peran Orang dewasa

    Masalah utama dalam pendidikan adalah bukan pendidikannya itu sendiri, tapi masalah hubungan antara anak dengan orang dewasa. (Ucapan Marian Minetssori dalam E.M. Standing, “Maria Montessori: Her Life and Work”, hal. 250). “Anak adalah anak, bukan miniatur orang dewasa. Anak juga bukan layaknya bagaikan sesuatu benda kosong, dimana orang dewasa harus mengisinya dengan sesuatu.” (Course Manual, hal. 11).

    Maria Montessori memandang bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk regenerasi kehidupan manusia. Kegagalan sistem pendidikan yang tidak mampu membangun masyarakat pada masa itu disebabkan karena terdapat adanya kekeliruan sistem pendidikan yang tidak memfokuskan pada masalah pendidikan sejak anak usia dini. (Course manual, hal 11). Jika pendidikan ingin berhasil, maka harus didasarkan pada anak (Montessori, “education for New world”, Hal. 4).

    Namun, Montessori juga menegaskan bahwa pendidikan saja tidak cukup jika orang tua dan guru (sebagai orang dewasa) memiliki asumsi yang salah terhadap anak. Orang dewasa harus meninggalkan anggapannya bahwa anak bagaikan benda kosong yang menunggu untuk diisi dengan pengetahuan dan pengalaman orang dewasa. Mengapa? Karena penting untuk dipahami bahwa anak memiliki potensinya masing-masing.

    Disamping itu, Montessori menegaskan pula pentingnya orang dewasa (guru dan orang tua) untuk menghilangkan egosentris dan keotoriterannya terhadap anak. Orang dewasa harus berperan sebagai orang kedua yang memperlakukan anak dengan lemah lembut untuk membantu tahapan perkembangannya dengan baik.

    Pendidikan Pola Baru adalah Pendidikan yang Membebaskan Anak dari Ketergantungan terhadap Orang Dewasa

    Setiap orang dewasa berasal dari seorang anak dulunya, Jadi, anaklah yang membntuk dirinya menjadi dewasa. Anak menyerap pengalaman apapun yang ia alami di dunia dan pengalaman tersebut berpengaruh terhadap perkembanganya ketika dewasa kelak. Berdasrkan asumsi ini, Monetssori menegaskan pentingya untuk membebaskan anak dari peran ketergantungannya terhadap orang dewasa, jika anak tersebut kita inginkan agar menjadi orang yang benar-benar mandiri kelak.

    Pendidikan Pola Baru adalah Pendidikan Anak yang Memberikan Peluang untuk Mengoptimalkan Kekuatan Unik pada Dirinya untuk Mengembangkan Diri

    Montessori menyatakan pentingnya orang dewasa menyadari bahwa kapasitas belajar anak sangat berbeda dengan orang dewasa, ia memiliki kekuatan unik untuk mengembangkan dirinya. Beberapa hasil observasi Montessori menunjukkan sebagai berikut:

    ? Anak menggunakan lingkungannya untuk menyempurnakan dirinya, sementara orang dewasa memanfaatkan dirinya untuk menyempurnakan lingkungannya. Orang dewasa adalah maklhuk yang tidak lagi berkembang, tetapi anak adalah makhluk sedang dalam keadaan senantiasa berkembang secara konstan. Ia berinteraksi dengan lingkungannya dan menyerap semua kesan yang dialaminya dan berpengaruh terhadap perkembangan dirinya.

    ? Tujuan anak melakukan sesuatu (bekerja) bersifat internal bukan eksternal seperti halnya orang dewasa. Orang dewasa melakukan sesuatu (bekerja) untuk menyelesaikan aktifitasnya, tapi anak melakukan aktifitas untuk perkembangannya. Melalui aktifitas kerjanya ia mengembangkan konsentrasi, mengembangkan perkembangan motorik, membangun kebiasaan, dan lebih penting lagi membangun konsep diri.
    ? Anak lebih tertarik pada proses dalam melakukan aktifitas, sedangkan orang dewasa lebih tertarik pada hasil dari aktifitasnya.
    ? Anak mengikuti hukum usaha maksimum. Agar berhasil melakukan sesuatu ia meningkatkan usahanya. Dengan demikian agar berkembang optimal, ia harus melakukannya sendiri dan tak ada seorang pun yang dapat melakukannya untuk dirinya (tak dapat diwakilkan). Segala bantuan yang diberikan kepadanya justeru menghambat perkembangan optimal mereka.
    ? Ritme aktifitas anak dalam melakukan sesuatu berbeda dengan orang dewasa. Sebagai contoh, anak umur 3,5 tahun yang harus membawa 10 benda ke suatu tempat maka ia akan melakukan pengambilan dan menempatkannya sebanyak sepuluh kali. Sedangkan, orang dewasa, karena kematangan kemampuan strateginya, mungkin cukup sekali. Kesimpulannya, anak memiliki pola perkembangan yang bertahap untuk dapat menguasai atau mahir dalam melakukan sesuatu.

    Pendidikan Pola Baru adalah Pendidikan Anak yang Memberikan Peluang kepada Mereka untuk Berinteraksi dengan Lingkungannya secara Bebasa dengan Penuh Kesabaran, Simpati, Kehangatan dan Kasih Sayang

    Anak memiliki potensi, Montessori menyebutnya sebagai ”ruhnya anak/spiritual embryo”, yang tidak disadari oleh dirinya. Implikasinya, agar anak (sebagai calon orang dewasa masa depan) akan membangun dunia yang lebih baik jika diberikan kesabaran, simpati, kehangatan dan kasih sayang untuk berkembang. Untuk itu diperlukan dua kondisi. Pertama, anak perlu berinteraksi dengan lingkungan untuk dapat memahami alamnya. Kedua, ia perlu kebebasan untuk menemukan dirinya. Jika dua kondisi ini hilang, maka perkembangannya tidak optimal.

    Pendidikan Pola Baru adalah Pendidikan anak yang Mampu Memberikan Kondisi dan Perlakuan (Bantuan) yang Tepat
    Montessori menyatakan bahwa berbeda dengan orang dewasa, anak memiliki intelijensi kreatif yang ada dalam tahap mental bawah sadar mereka. Saat itu adalah saat sensitif (sensitive periode) bagi anak. Interaksi dengan lingkungannya akan membantu perkembangan mereka. Oleh karena itu, orang dewasa (guru/orang tua) perlu diberikan kondisi lingkungan plus perlakuan yang tepat atau sesuai agar semua aspek perkembangan mereka berkembang secara optimal.

    Kesimpulan

    Menurut Montessori, permasalahan utama pendidikan adalah bukan terletak dari sistem pendidikannya itu sendiri, tapi karena tidak adanya fokus terhadap anak dan hubungan antara orang dewasa dengan anak. Oleh karena itu untuk membangun masyarakat, perlu ada revolusi pola pendidikan sebagai berikut:
    ? Pendidikan Pola Baru adalah Pendidikan yang Membebaskan Anak dari Ketergantungan terhadap Orang Dewasa
    ? Pendidikan Pola Baru adalah Pendidikan Anak yang Memberikan Peluang untuk Mengoptimalkan Kekuatan Unik pada Dirinya untuk Mengembangkan Diri
    ? Pendidikan Pola Baru adalah Pendidikan Anak yang Memberikan Peluang kepada Mereka untuk Berinteraksi dengan Lingkungannya secara Bebasa dengan Penuh Kesabaran, Simpati, Kehangatan dan Kasih Sayang
    ? Pendidikan Pola Baru adalah Pendidikan anakyang Mampu Memberikan Kondisi dan Perlakuan (Bantuan) yang Tepat

    Bibliography:

    Course Manual: Diploma in Montessori Method of Education (Birth to Six Years of Age), page 11 – 15.
    Montessori, Maria, “Education for A New World: The Clio Montessori Series”, (England: Clio Press, 1989), page 4.
    Standing, E.M., “Maria Montessori: Her life and Work”, (USA: Plume Book, 1998), page 250.

  1. #1 mETa
    March 15th, 2008 at 12:04

    hmm,,,bener juga c,,
    phy masih agak sulit tuk dtrapkan kayanya,,,
    coz msh byk bet orang dewasa yg berpikir dgn paradigma seperti itu,,ya istilahnya,,,msh mgikuti yg dulu-dulu,agak kolot dan monoton,,
    tyus yg saya ingin tahu pak,,kalo mu dtrapkan contoh pnerapan pndidikannya tuw sperti apa ya??

    Post ReplyPost Reply
  2. #2 Uwes Anis Chaeruman
    March 18th, 2008 at 5:55

    contohnya banyak. saya kasi tahu satu aja. Ketika seorang anak, mainannya masuk kedalam kolong kuris. kemudian dia minta tolong kamu sebagai tantenya untuk ngambil. apa yang kamu lakukan? langsung mengambilkan atau mengajak dia memecahkan masalah kira-kira gimana caranya untuk mengambil kembali benda itu? Maka, jika kedua yang kita lakukan. maka kamu elah membantu dia untuk menjadi seorang problem solver dimasa mendatang…. :)

    Post ReplyPost Reply
  3. #3 Rusma Prabalelya
    April 24th, 2008 at 3:52

    waduh bener juga ya,anak itu bukan benda kosong yang harus diisi dan juga bukan miniatur orang dewasa.dia punya dunia sendiri,terimakasih sudah membuka pengertian saya selama ini yang berangapan bahwa anak kecil adalah kertas putih yang harus kita isi dengan hal – hal yang baik.

    Post ReplyPost Reply
Leave a Comment