Anak “Nakal” vs Anak “Pinter”
Sabtu, 12 April 2008. Obrolan ringan bersama dengan teman-teman Save the Children di Lobby Hotel Naggroe, NAD.
Dalam sela-sela perbincangan tentang pelaksanaan PAKEM (active learning) bagi guru-guru di Aceh, kami memperbicangkan perbedaan antara anak “nakal” dengan anak “pinter” (dalam tanda petik). Maaf, ini hanya gurauan lho! Jangan tersinggung. Keismpulan kami dari hasil perbincangan itu adalah bahwa anak yang dalam tanda petik “nakal” adalah sebenarnya anak pintar. Sementara anak yang dalam tanda petik “pintar” sebenarnya adalah anak yang pandai menghapal dan penurut. Nah, lha….!
Coba kita lihat, teman-teman sekolah kita dulu yang nilainya pas-pasan, nakal, justeru lebih berhasil dalam hidup dan bekerja, ketimbang mereka yang dulunya juara kelas. Mereka yang juara kelas, paling banter jadi pekerja yang baik. Sementara yang nakal paling pahit jadi “preman”, uangnya tetep banyak. Jika ia jadi pengusaha, biasanya adalah pengusaha yang baik. Jika jadi pemimpin, mereka adalah pemimpin yang sukses. Maaf, sekali lagi ini kelakar, terlepas dari masalah moral baik atau buruk.
Inti dari perbincangan ini adalah penting sekali, di sekolah, para guru mulai memikirkan upaya memberikan kesempatan yang lebih banyak kepada anak/siswa untuk mengalami persitiwa belajar (melihat, mendengar, merasa, mencoba, melakukan, memecahkan masalah, berinteraksi sosial / berkolaborasi, mengekspresikan ide, mengkomunikasikan ide dan hasil de el el). Dengan demikian, akan lebih banyak terlatih untuk berpikir kritis dan sistemik, terlatih untuk memecahkan masalah, terlatih untuk bekerjasama atau berkolaborasi, terlatih untuk terbuka dan saling menghargai ide, dan laini-lain. Inilah yang dinamakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi siswa (student-centered learning). Fakta nyata menunjukkan bahwa anak yang sejak di sekolah lebih banyak mengalami peristiwa belajar, katakanlah mereka yang terbiasa menjadi ketua kelas, terbiasa ikut serta dalam kegiatan Pramuka, Paskibra, atau klub-klub lain, ketika menjadi dewasa cenderung lebih berhasil dalam masyarakat. Anda boleh percaya atau tidak.
Anak, yang saya katakan “nakal”, seklai lagi dalam tanda petik, seperti dijelaskan di atas adalah sebenarnya anak-anak yang potensial yang berusaha mencari pengalaman belajar yang tidak ia terima atau temukan dalam kelas. Kenapa, karena dalam kelas mereka hanya datang, duduk, dengar dan catat apa yang disampaikan guru sebagai modal nanti untuk menjawab soal ujian. Inilah yang menjadi permasalahan kita bersama, termasuk kami bersama Save the Children yang sedang menyusun pedoman pembelajaran aktif yang intinya adalah ingin mengajak guru dan pendidik semua berpindah dari pola pembelajaran lama yang masih berpusat pada guru menuju pembelajaran yang berorientasi siswa, yaitu pembelajaran yang menurut istilah Depdiknas disebut sebagai pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan juga menyenangkan (PAKEM).
Semoga berjalan dan berhasil dengan baik, demi anak negeri yang masa depannya ada di tangan kita sekarang ini! MERDEKA!
Viewed 354 times by 85 viewers







share