Logo Background RSS

» Morning in Starbuck Coffee: a Contemplation!

  • Written by Uwes A. ChaerumanUwes A. Chaeruman 8 Comments8 Comments Comments
    Last Updated: April 10th, 2008

    Pagi ini saya mo pegi ke Aceh. Safe the Children minta bantuan memfasilitatori pengembangan modul PAKEm untuk para Kepala Sekolah dan Pengawas.

    Pegi naik taxi blue bird. Seperti biasa, saya selalu mengajak ngobrol sopir. satu hal yang menarik sekali terjadi dan ingin saya bagi disini. sang sopir bertanya, “Pak lewat mana?” Karena saya dari Ciputat, saya bilang,”lewat belakang saja, biar cepet”. Setiap kali naik taxi lewat belakang, pasti supir menanyakan, “apakah sudah ada tiketnya pak? bisanya ga boleh masuk kalo gak bawa tiket.” saya bilang, “ada, nih sehelai kertas.” seraya saya tunjukkan kepada beliau. Lha, ini toh tiketnya? apa bisa? saya bilang coba aja nanti bisa. Gimana caranya? Saya bilang, “sekarang ini jamannya berubah, kita bisa melakukan transaksi lewat elektronik. Jadi gampang. Tinggal masuk internet, cari dan bayar melalui credit card. Mudah bukan?” “Waduh pak, yang namanya komputer saja saya belum pegang. Credit card saja saya hanya pernah melihat, apalagi punya”. begitu kata sang sopir.

    Begitu sampai di bandara. setelah check in, bergegas menuju starbuck coffee. tujuannya sederhana mendapat akses internet. Maklum, setiap hari saya harus cek tugas mahasiswa, memberikan komentar dan melayano chatting. :) Di starbuck, kebanyakan orang duduk sambil makan dan minum. Ada yang sendiri, ada yang bergerombol dengan dua tau lebih temannya. Semuanya memiliki satu gaya hidup era informasi, laptop didepan meja, jari dan jempol yang “mencet-mencet” hp, headset ditelinga sambil dengerin musik atau menerima telepon.

    Dua kejadian ini, menunjukkan betapa kesenjangan digital begitu besar antara sebagian besar masayarakat kita (seperti direpresentasikan oleh ungkapan sopir taxi) dengan sebagian kecil masyarakat kita (direpresentasikan oleh orang-orang di starbuck coffee tersebut). Akankah keadaan seperti ini menggilas mereka? Bukankah bukti nyata menunjukkan bahwa negara maju adalah negara yang menguasai teknologi informasi dimana masyarakatnya adalah masyarakat berpengetahuan yang note bene adalah mereka yang melek informasi? Waaaawwwwwwwww Padahal yang kebanyakan masyarakat umum terima adalah cekokan informasi dari media massa elektronik dalam bentuk sinetron, gosip, dan informasi picisan lain yang tidak bermutu…..!

    Pendidikan kita, ditantang untuk tidak lagi memberantas buta huruf. Tapi ditantang untuk membangun masayarakat berpengetahuan. Gila bo….! Bayangkan, percepatan dibidang teknologi informasi yang eksponensial sifatnya, tidak selaras dengan pembudayaan melek informasi di tangan masyarakat. hmmmmmmmmmm akankah kita menjadi msayarakat primitif? …………. Kita hidup di jaman flinstone sementara masyarakat lain hidup di jaman star trek….

  1. #1 Listya
    April 12th, 2008 at 3:46

    Huaaaa..bener banget tuh pak!

    btw barusan dimintain seorang mba (salah satu korban iklan Simpati PeDenya Indra Bekti) untuk beli HP 3G. Padahal kalo dipikir-pikir kepentingannya cuman buat dengerin radio, sms, ama telpon. si Mba yakin banget dengan teknologi 3G.

    “biar bisa liat muka mboke di kampung” alesannya..
    “emangnya keluarga di kampung ada yang punya HP 3G juga mba?”
    “engga tau..”
    “gubrakkkk..lhaa..??” secara di kampungnya sinyal aja masih byarr pett!

    tapi setidaknya si mba sudah ada keinginan untuk selangkah lebih maju..mungkin nanti dia akan jadi pioneer melek tekno di kampungnya! Huehehehee..

    Post ReplyPost Reply
  2. #2 Uwes Anis Chaeruman
    April 12th, 2008 at 3:59

    he he he. sama saya juga punya hp 3g (inventaris kantor) tapi fasilitas 3g-nya gak pernah saya pake tuh!

    Post ReplyPost Reply
  3. #3 my
    April 22nd, 2008 at 7:16

    Hmm.. seperti paradoks .. perbedaan yang ekstrim ttg teknologi sering ditemukan dimasyarakt.. seperti di jakrta yang udah teknologi oriented..tapi dnunjauh disana dipedalaman.. masih primitif sekali.. Jujur aja.. kalo saya kini nggak terlalu mikirin teknologi terbaru tuk saya miliki.. Toh yang penting adalah Forms follow functionnya kan.. Secanggih apapun kalo nggak guna.. ngapain dibeli.. apalagi kalo pake kas negara hehehe..
    (gara2 ikut workshop help desk n e-office jadi mabok IT nih..soalnya disini saya termasuk yang GAPTEK abiss)

    Post ReplyPost Reply
  4. #4 danar
    May 19th, 2008 at 2:37

    saya ada kenalan lulusan teknologi pendidikan, masih boleh gak kalo dia saya masukkan kedalam representasi yang agak kurang ngerti teknologi (pendidikan)- ikut nambahin kesenjangan digital? tergantung individunya kali’ ya. Tadinya agak penasaran juga yang dipelajarinya di bangku kuliah, mo nanya, ntar sensi, setelah baca blog mas Uwes ni jadi ngerti (dikit)

    Post ReplyPost Reply
  5. #5 Uwes Anis Chaeruman
    May 22nd, 2008 at 3:01

    ya, boleh… kepanap tidak? :)

    Post ReplyPost Reply
  6. #6 ino gigi
    August 5th, 2008 at 5:11

    perkembangan teknologi jaman sekarang mank udah cepet banget pak bergeraknya dah kaya motornya komen….
    nah sekarang bagaimana agar paling tidak tidak hanya orang2 atas melulu aja yang bisa make teknologi yang “wah”
    karena menurut saya pak ya, seharusnya teknologi itu bisa membuat meratanya pendidikan di indonesia, baik yang mampu maupun tidak mampu

    Post ReplyPost Reply
  7. #7 Uwes Anis Chaeruman
    August 6th, 2008 at 4:11

    ide yang bagus. pemerintah sedang berusaha mengembangkan infrastruktur yang dinamakan JArdiknas, no…….

    Post ReplyPost Reply
  8. #8 ino gigi
    August 7th, 2008 at 4:51

    jardiknas itu, jaringan pendidikan nasional kan pak?
    jadi itu kaya gmana sih pak?

    Post ReplyPost Reply
Leave a Comment