BSE, dilema antara Buku Murah vs e-Book

Saya kebetulan diberi tugas menangani buku sekolah elektronik alias bse yang saat ini menjadi issu yang cukup panas di media massa. Sekedar urun rembuk, rasanya perlu juga meluruskan duduk permasalahan bse ini. Sekalian, mohon masukan yang konstruktif bagi yang membaca posting ini.
Ceritanya begini. Buku Sekolah Elektronik sebenarnya adalah salah satu skema (menurut bahasanya pak Dodi Nandhika) atau salah satu skenario dari program Pemerintah yang bernama Buku Murah. Jadi, intinya yang sebenarnya adalah PROGRAM BUKU MURAH. Nah, pertanyaannya sekarang apa yang dilakukan pemerintah dalam hal ini Depdiknas untuk mewujudkan program buku murah tersebut? Depdiknas membeli hak cipta buku-buku sekolah yang dianggap memenuhi standar alias layak menurut Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP) dari penulisnya langsung. Karena hak ciptanya sudah dibeli, maka buku-buku sekolah tersebut nantinya dapat didistribusikan dengan gratis. Atau, kalaupun diperjualbelikan alias diperdagangkan, boleh dengan catatan harus dibawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditentukan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. Misal, kalo HET buku tersebut adalah 12.500 rupiah katakanlah, maka para pengusaha buku, penerbit atau siapa saja dapat mengkomersilkan buku tersebut dengan harga maksimal 12.499 rupiah. Pertanyaan berikutnya, bagaimana buku yang telah dibeli hak ciptanya tersebut disebarluaskan? Maka ada beberapa “delivery scenario”. Pertama dan skenario utama, penerbit atau pengusaha buku yang berminat dapat memperoleh source buku tersebut dari Pusbuk untuk dicetak dan diperdagangkan dengan harga dibawah HET. Source buku ini, tentu saja memenuhi standar kualitas cetak masal dan pengusaha yang menggandakan tidak boleh merubah apapun, baik layout apalagi isinya. Dengan demikian, akan memberikan peluang bisnis bagi masyarakat di daerah dalam rangka membantu mendistribusikan buku murah ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Skenario kedua, Depdiknas menyediakan socft copy buku tersebut dalam bentuk CD/DVD untuk digunakan sendiri atau dicetak atau dicopykan gratis untuk disebarluaskan ke pihak manapun yang membutuhkan. Pemanfaatannya, bisa saja buku-buku tersebut diprintout sehingga menghasilkan satu master copy, kemudian difotocopy untuk dapat digunakan oleh siswa. Kalaupun harus diperjualbelikan, maka cukup mengganti harga copy saja. Misal, satu buku berisi 100 halaman. Maka jika harga copy per halaman adalah Rp. 100,- maka siswa dapat memperoleh buku tersebut cukup dengan harga Rp. 10.000,-. harga inipun lebih mahal dibandingkan jika beli dari distributor yang menjual dengan harga dibawah HET. Sebagao contoh, Buku Bahasa Indonesia dengan jumlah sebanyak 92 halaman dipatok dengan HET sekitar Rp. 6000,-, lebih 40% lebih murah. Tapi tetap masih lebih murah jika dibandingkan dengan harga buku sekolah dari toko buku. Disamping itu, tentu saja, karena ini adalah hasil fotocopy, kualitasnya jangan dibandingkan dengan kualitas hasil skenario utama seperti dijelaskan di atas. Alternatif ketiga, buku sekolah tersebut di-deliver atau disalurkan melalui media internet yaitu http://bse.depdiknas.go.id. Skenario ini yang mendapat sorotan banyak dari media massa. Celakanya, orang melihat dari sisi skenario ini saja, padahal skenario ini adalah merupakan salah satu alternatif lain. melalui http://bse.depdiknas.go.id setiap orang bisa melakukan baca secara online dan download. Nah, karena skenario ini dilakukan melalui ineternet, tentunya banyak kendala baik dari sisi pengelola maupun pengguna. Pengelola dalam hal ini Pustekkom berusaha mengemas sedemikian rupa agar mudah didownload dengan cara memperkecil kapasitas file, menyediakan mirror system, memodifikasi sistem aplikasi dan lain-lain. Di sisi pengguna juga perlu mempertimbangkan persyaratan minimum agar bisa mendownload dengan cepat, misalnya kecepatan bandwidth, dengan 56Kbps katakanlah, tentu pasti akan lambat. Menurut saya, tips dan trick untuk mendapatkan buku murah adalah sebagai beirkut: 1. Beli buku murah dari distributor atau penjual dengan harga sesuai aturan HET yang berlaku. Itu lebih murah. Oleh karena itu, siapa saja diperkenankan untuk memperjualbelikannya dengan mengacu pada HET yang berlaku. Dengan catatan, distributor tersebut memperoleh source buku sekolah dengan kualitas percetakan dari Pusbuk atau Pustekkom. 2.Download buku murah dari BSE (http://bse.depdiknas.go.id) secara kelompok melalui lokasi dan fasilitas komputer yang memadai, kemudian softcopy dibagikan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang membutuhkan. Atau printout dan jadikan sebagai master copy, dan digandakan sesusai kebutuhan. Kalaupun akan dijual, hanya sekedar untuk biaya ganti copy. 3. Dapatkan source, terlepas dalam bentuk CD/DVD yang diperoleh dari Pusbuk atau Pustekkom atau hasil download dari bse.depdiknas.go.id dan simpan di server lokal sekolah. Atau simpan di server WANKota, sehingga sekolah-sekolah di sekitar yang terhubung dapat mendownloadnya dengan cepat. Dengan demikian, buku sekolah murah dapat Anda peroleh dari berbagai cara. Pertama dan utama beli langsung dari distributor dengan harga standar HET, jelas lebih murah. Kedua download secara kelompok dari situs bse.depdiknas.go.id. Ketiga, diperoleh melalui LAN sekolah atau WAN yang ada di sekitar. Saya berbicara disini atas nama pribadi. Informasi ini adalah info non-formal, walaupun saya sendiri sebenarnya salah satu orang yang mengurus bse. Nah, bagi para pembaca yang memiliki ide atau saran, bukan kritik lho
, tentang skenario lain untuk mendapatkan buku sekolah murah, silakan tuliskan dalam pesan dibawah ini. Saya sangat menghargai dan berterima kasih banyak.
Viewed 442 times by 189 viewers







share