Tips Mematangkan Kepribadian Anak

Commentby: Uwes A. Chaeruman on: September 11th, 2008


Ramadhan, 9 September 2008, di Masjid Babbussalam, Lembah Pinus, Pamulang, Banten
Malam ke sembilan tarawih, saya kebagian jadi penceramah ba’da Isya menjelang tarawih. Bingung issyu apa yang mau diangkat, saya berusaha mebolak-balik elmu yang pernah saya pelajari dan kuasai. Ketemulah tema pendidikan, yaitu tips membangun kematangan pribadi (kecerdasan berpikir, emosi, sosial dan spiritual) anak. Cari-cari dasar ayat Al-qur’an ketemulah satu ayat pendek yang cukup dalam Allah memperingatkan kita. Yaitu, QS: Al-anfaal ayat 22 yang artinya:

“Sesungguhnya, seburuk-buruk makhluk (melata) disisi Allah adalah mereka (manusia) yang tuli lagi bisu, yang tidak menggunakan akalnya.”

Jadi, orang yang bodoh dan tidak pernah menggunakan akal itu ibarat makhluk melata yang tuli lagi bisu. Bayankan, makhluk melata itu tidak dibekali akal, trus tuli lagi bisu lagi.

Kata akal itu sendiri dalam Al-Qur’an terdapat sebanyak 49 kata dan semuanya dalam bentuk kata kerja. Artinya, pemanfaatan akal alias kecerdasan (emosi, sosial, logika, maupun sipritual) adalah keharusan, agar manusia tidak seperti hewa melata. istilah kasarnya, kira-kira begitu lah!
Nah pertanyaan besar kita adalah, bagaimana membangun anak manusia yang mampu menggunakan akal, yang merupakan anugerah istimewa yang dierikan Allah SWT hanya kepada makhluk yang bernama manusia?

Hadirin rahimakumullah! Ce illeeeeee……. Beruntunglah ilmu pengetahuan kita saat ini telah membawa pencerahan baru kepada kita semua tentang bagaimana akal itu berfungsi. Ilmu pengetahuan telah menjelaskan potensi otak yang sangat luarbiasa sebagai super processor yang tiada bandingannya. Bayangkan, ketika bayi lahir, dianugerahi dengan 1000 trilyun sel otak aktif. Pada masa umur 10 tahun jumlah tersebut berkurang 50% menjadi 500 trilyun saja. Ini artinya apa, masa kepekaan otak untuk menerima rangsangan secara optimal mulai menurun sejak kita berumur 10 tahun.

Nah, terkait dengan pertanyaan besar tersebut diatas, instrumen akal ini, yaitu OTAK, harus kita optimalkan sejak usia dini sebelum masa tayangnya habis. Di sisi lain, kita ketahui bahwa otak memiliki banyak fungsi, diantaranya adalah fungsi berpikir, fungsi emosi/sosial dan fungsi spiritual. Kalau demikian adanya, maka kematangan kepribadian anak perlu kita bangun sejak dini. Lha iya lah, masa ya donk?

Caranya gimana? ini adalah pertanyaan berikutnya. Tentu banyak cara. Salah satu cara yang saya bahas dalam ceramah tersebut adalah dengan membiasakan memberi kesempatan untuk mengaktualisasikan diri melalui peran dan tanggung jawab yang kita berikan kepada mereka. Itulah salah satu kuncinya.

Sodara-sodara sekalian, sy pernah baca tulisan diinternet yang mengatakan bahwa sebagian besar remaja yang terjerumus dalam NARKOBA adalah mereka yang sejak kecil tidak pernah mendapatkan peran dan tanggung jawab positif, baik dari keluarga maupun masyarakat di sekitarnya. Dan ini banyak terjadi pada keluarga kita. Contoh sederhana, ketika turun dari mobil sepulang sekolah, tas sang anak langsung diusung oleh pembantu, ketika makan disuapin pula, ketika mandi dimandiinpun, sepedanya bersih mengkilap karena dah dicuci pembokat…

Kesempatan untuk melakukan suatu peran dan tanggung jawab ini berpengaruh besar dalam merangsang otak untuk meningkatkan baik fungsi pikir, sosial/emosi, maupun spiritual mereka. Ketika anak diberikan peran untuk mengepel kamar tidurnya sendiri, katakanlah, disitu otaknya mengalami proses berpikir harus mulai dari mana dulu, berapa banyak sabun yg harus dituang dalam air, de es te. Begitu pula otaknya dipaksa untuk bersabar, menahan rasa malas, de el el. Pengalaman berpikir, dan menahan emosi seperti itu akan merangsang sel-sel otak dan ke depannya akan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian mereka.

Fakta nyata juga menunjukkan bahwa, siswa yang sering mendapatkan peran dan tanggung jawab dari gurunya di sekolah sebagai ketua kelas, katakanlah, maka dapat dibuktikan bahwa kepribadiannya cenderung lebih matang ketika ia dewasa kelak dan life skillnya dalam bermayarakat dan bekerja menjadi lebih matang dibandingkan dengan yang lain. Begitu pula jika dilihat dari sisi kepercayaan diri, konsep diri, integritas, penghargaan diri dan lain-lain.

Sebagai kesimpulan, mari kita berintrospeksi dengan bertanya, sudah berapa besar kita telah memerikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk mengaktualisasikan dirinya melalui peran-peran dan tanggung jawab positif. Jika kita seorang guru, dalam 2 x 45 menit mengajar, sebagian besar waktu tersebut kita rampas dan habiskan untuk mencekoki informasi, ketimbang diberikan haknya kepada mereka untuk mengekspresikan atau melakukan pengalaman belajar tertentu. Ketika itu terjadi, otak mereka hanya pasif menerima informasi, maka hasilnya adalah cuma sekedar PENGETAHUAN TENTANG. Tapi, sekali waktu sang siswa diminta kedepan selama lima menit untuk mengekspresikan sesuatu, maka otaknya mengalami peristiwa yang dapat merangsang otak emosi, otak berpikir bahkan mungkin otak spiritualnya disitu, dan lima menit tersebut adalah pengalaman emas yang akan merubah dirinya di masa mendatang. PERCACYALAH!

“Sesungguhnya, peristiwa belajar terjadi ketika sel-sel OTAK melalui panca idera melalui suatu proses MENGALAMI. Semakin banyak kesempatan katualisasi diri melalui peran dan tanggung jawab positif kita berikan kepada anak, semakin banyak sel-sel OTAK merekam PENGALAMAN yang luar biasa. Berbekas dalam sepanjang hidupnya, dan merupakan bekal hidup yang berharga untuk mengemban amanat sebagai KHALIFAH dimuka bumi yag harus mampu memanfaatkan anugerah istimwa berupa AKAL.”

 Viewed 346 times by 168 viewers

share

DeliciousFacebookDigg
RSS FeedStumbleUponTwitter
DeliciousFacebookDigg
RSS FeedStumbleUponTwitter

comments

No CommentTell us what you think...?

Please note: Use of a non-personal web site or blog in the field and/or comments that are off-topic, personal attacks, or support requests will likely be removed at my discretion.