Constructivism between Cognitive and Socio-Constructivism

Commentby: Uwes A. Chaeruman on: October 10th, 2008

Topik ini adalah request dari pembaca bernama Liesn yang meminta rujukan terkai dengan socio-constructivism. Here it is Lies! mudah-2an membantu Anda :)

Ide dasar konstruktifisme sebenarnya sederhana, yaitu bahwa pengetahuan manusia diperoleh dengan cara dibangun, bukan diajarkan, manusia itu sendiri yang membangun pengetahuannya. Oleh karenanya, pemelajar didorong untuk secara aktif membangun pengetahuan dalam situasi yang realistis dan kontekstual, daripada hanya sekedar menerima pengetahuan secara pasif dalam situasi yang formal, membosankan, dan ooc alias out of context. Oleh karena itu, dalam konteks konstruktifistik, peran guru tidak lagi sebagai information dispencer (pencekok informasi) tapi pembangun pengetahuan sebagai fasilitator untuk semua peserta didiknya.

Pertanyaan dari pemirsa adalah apa bedanya antara kognitif-konstruktivistik dengan sosio-konstruktivistik? Apa sih karakteristik serta contoh penerapan dari sosio-konstruktifistik itu? Baiklah, mari kita jawab disini … :)

Konon, berdasarkan sejarahnya memang ada dua trend prspektif teori belajar konstruktivistik ini, yaitu paham kognitif-konstruktivism dan paham sosio-kultural konstruktivism. Begitu ceritanya. Paham pertama, adalah paham yang dilihat dari perspektif individu yang dipelopori oleh Jean Piaget (1896 – 1980). Ini teori konstruktifistik juga. Sederhananya begini, menurut Eyang Piaget, manusia membangun pengetahuannya secara internal dalam diri individu masing-masing melalui proses adaptasi dan organisasi terhadap segala peristiwa eksternal menjadi pengetahuan dan ketika pengetahuan lama dan pengetahuan baru di organisasikan menjadi pengetahuannya yang lebih kompleks maka pengetahuannya akan terbangun secara terus menerus. Paham kedua, adalah berdaasarkan perspektif sosial, dengan asumsi pengetahuan manusia dibangun dalam konteks sosial. Paham ini dipelopori oleh Mbah Lev Vigotsky (1896 – 1934). Pengetahuan terbangun karena adanya interkasi sosial antara satu individu dengan individu lainnya. Itu aja bedanya, menurut saya keduanya memiliki kesamaan ide yang jelas yaitu bahwa pengetahuan itu harus dibangun bukan diajarkan dan bahwa pemelajar itu harus didorong untuk membangun pengetahuan baik secara individu maupun dalam konteks sosial. :)

Sekarang kita lihat apa sih karakteristik pembelajaran konstruktifistik, terlepas dari perspektif kognitif maupun sosio-cultural?

Ciri utama pembelajaran konstruktivistik adalah adanya partisipasi aktif siswa misalnya dalam memecahkan masalah, berpikir kritis, dan lain-lain terkait dengan aktifitas belajar yang relevan, kontekstual dan otentik serta menarik buat dirinya. Mereka membangun pengetahuan dengan cara menguji ide-ide dan pendekatan-pendekatan mereka sendiri berdasarkan atas pengetahuan dan pengalaman awal mereka yang kemudian diaplikasikan dengan situasi baru yang menantang sehingga terintegrasi menjadi pengalaman dan pengetahuan/keterampilan baru.

Nah. menurut Mbah Jonassen (1994), sebenernya ada setidaknya delapan karakteristik pembelajaran konstruktivistik. Inilah mereka:

1. Pembelajaran yang konstruktivistik menyediakan representasi realitas yang beragam;
2. Representasi realitas yang ebragam tersebut jangan terlalu disederhanakan, tapi sebaliknya merepresentasikan kompleksitas dunia senyatanya. artinya tidak direka-reka apalagi dibuat-buat.
3. Pembelajaran yang konstruktivistik menekankan pada pembangunan pengetahuan dari pada sekedar reproduksi pengetahuan. Apalagi menghapal pengetahuan :)
4. Pembelajaran yang konstruktivistik juga menekankan pada tugas-tugas otentik yang kontekstual dan bermakna bagi siswa dari pada hanya menyampaikan pengetahuan yang abstrak dan tidak kontekstual. Nah, lho? Bukankah praktek mengajar sekarang mostly seperti itu?
5. Pembelajaran yang konstruktivistik menyediakan seting lingkungan dunia senyatanya atau pembelajaran bedasarkan kasus (case-based learning). Daripada hanya sekedar mengikuti instruksi pengajaran yang kebanyakan disampaikan oleh guru sebagai pencekok informasi.
6. Pembelajaran yang konstruktivistik mendorong berpikir reflektif terhadap pengalaman baru yang dia rasakan.
7. Pembelajaran yang konstruktivistik mampu membangun pengetahuan baik dari sisi konten maupun konteks.
8. Pembelajaran yang konstruktivistik mendukung konstruksi pengetahuan kolaboratif melalui interaksi sosial, bukan kompetisi antar pemelajar yang lainnya. Jadi mendorong untuk saling menjadi mitra belajar satu sama lain (community-based knoswledge building).

Ups… rapat ISODEL 2008 (International Symposium on Distance Educaton and Learning) dulu. Contoh penerapannya menyusul ya …. :)

 Viewed 375 times by 196 viewers

share

DeliciousFacebookDigg
RSS FeedStumbleUponTwitter
DeliciousFacebookDigg
RSS FeedStumbleUponTwitter

comments

No CommentTell us what you think...?

Please note: Use of a non-personal web site or blog in the field and/or comments that are off-topic, personal attacks, or support requests will likely be removed at my discretion.