Logo Background RSS

» Fakta SDM Kita …

  • Written by Uwes A. ChaerumanUwes A. Chaeruman 3 Comments3 Comments Comments
    Last Updated: February 25th, 2009

    Hotel Sahid Jaya, Jl. Jend. Sudirman, 25 Feb 09.

    Saya mengikuti workshop pemetaan SDM Profesi Bidang Komunikasi dan Informatika yang diselenggarakan oleh Depkominfo. Dalam pertemuan tersebut hadir beberapa pembicara yang merupakan perwakilan dari asosiasi profesi yang meliputi jurnalis, insan perfilman, kehumasan, BNSP, dan lain-lain, salah satunya lagi adalah Dewan TIK Nasional (DeTIKNas).

    Dalam hal ini saya inging menggarisbawahi apa yang disampaikan oleh Pak Ucok, nama panggilan Zainal Arifin Hasibuan (Wakil Ketua Dewan TIK Nasional) baru yang menggantikan Bapak Kemal Stambul. Selamat ya…. ! Dalam wacana SDM yang dipaparkan, Ia menyampaikan fakta SDM TIK, yaitu:

    • Kuantitas vs Kualtas; SDM kita, khususnya SDM TIK, dari sisi kuantitas cukup banyak tapi dari sisi kualitas … ? Inilah tanda tanya yang besar. Peran lembaga profesi penting disini …
    • Ekspansi vs relevansi; yang dipelajari banyak tapi relevansinya rendah. Kalo menurut istilah Bapak Wardiman mah tidak “Link and Match”.
    • Pendidikan vs Pelatihan; banyak lulusan yang masih belum siap pakai dan memerlukan pelatihan lebih jauh.
    • Politisi” vs Akademisi; SDM kita lebih banyak yang bicara diatas kertas, bak seorang “politisi” yang mengumbar janji. Tanpa mampu meberikan solusi kongkrit. Yang diharapkan adalah SDM yang mampu memcahkan masalah.
    • Profesi vs Selebriti; lebih banyak selebriti TIK dibandingkan dengan profesi TIK.

    Begitulah kata beliau. Pertanyaan kita adalah, yang salah sebenarnya siapa ya? Pencetak SDM alias penyelenggara pendidikan or lapangan pekerjaan yang tidak relevan? Kalo saya dari sisi orang yang bergerak dalam penyelengaraan pendidikan, kayaknya fakta ini adalah  “gamparan” bagi kita. Artinya sistem pendidikan harus dibenahi agar mampu menghasilkan lulusan yang profesional, berkualitas, dan punya dedikasi. Bagaimana menurut Anda?

    Saya kira wajar, sebab dalam pendidikan kita lebih banyak diajarkan tentang cangkang ketimbang isi, lebih banyak teori ketimbang konteks dan relevansi di lapangan, guru lebih berperan sebagai pemain utama (bukan sutradara pembelajaran) dan siswalah penontonnya. Seharusnya, siswa menjadi pemain utama dan guru sebagai sutradaranya.

  1. #1 may
    February 26th, 2009 at 11:37

    yup…guru seharusnya hanya sebagai fasilitator, murid yang berkembang sendiri dengan pengawasan guru tapinya//

    nb: pak.. puny acontoh kuisioner tuk evaluasi pelatihan gak? punya saya filenya gak tau kemana..bisa bantu?

    Post ReplyPost Reply
  2. #2 okdafid
    February 27th, 2009 at 11:24

    KANG SAYA CARI MATERI ANDRAGOGI SUSAH JUGA..BISA BANTU GA KANG TENTANG PAEDAGOGIK DAN ANDRAGOGIK

    Post ReplyPost Reply
  3. #3 Uwes A. Chaeruman
    February 27th, 2009 at 1:58

    ada tulisan saya tentang andragogi. cari aja di search pada blog ini kemudian ketikan kata kunci andragogi maka akan muncul. Jika ada waktu, kedepan Insya Allah sy tuliskan lebih dalam lagi tentang hal tersebut.

    Post ReplyPost Reply
Leave a Comment