Mas Phillip benar, saya sepakat dengan dikau

Mas Phillip, sautu ketika memberikan komentar dalam salah satu tulisan saya. Salah satu komentarnya adalah seperti ini:
Dengan rasio: “Sekarang Satu Komputer Untuk 2.000 Siswa” dan “dari jumlah total yang mencapai 200.000 sekolah, sekitar 182.500 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA se-Indonesia belum terakses internet”, jelas TIK bukan solusinya sekarang, kan?
Dari yang saya mendengar…. program-program baru yang mau dilaksanakan juga hanya dapat paling menyampaikan cukup komputer untuk Mata Pelajaran TIK (kalau dicapaikan). Bagaimana sekolah-sekolah di desa dapat melaksanakan Pembelajaran Berbasis-TIK. Kita harus mengarah ke pendidikan yang bermutu untuk semua, kan? Mengapa Pendidikan Berbasis-TIK tidak dilakasanakan di sekolah secara umum di negara maju? Memang sudah dicoba? Kalau lewat (memperluaskan) Internet, bukankah banyak masalah yang harus dihadapi?
Saya sepakat dengan pendapat beliau. Dewasa ini, seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, banyak dibicarakan mengenai pemanfaatan teknologi tersebut, khususnya komputer dan internet. Bahkan banyak sekali program atau proyek yang terkait dengan hal tersebut, salah satunya adalah JARDIKNAS (Jejaring Pendidikan Nasional). Intinya, Jardiknas berupaya memberikan akses insfrastruktur TIK skala nasional dengan memanfaatkan Virtual Private Network atau Wide Area Network skala luas.
Satu hal penting ketika berbicara teknologi maju (khususnya komputer dan internet) untuk pembelajaran, maka fokus kita adalah pada pembelajarannya itu sendiri dengan memperbantukan teknologi untuk membuat tujuan pembelajaran yang dimaksud berhasil. istilah kerennya efektif dan menempatkan siswa atau peserta belajar sebagai subyek (student-centered learning). Patokannya sederhana saja. Cukup dengan menjawab pertanyaan berikut: “Apakah penggunaan teknologi maju tersebut membuat proses pembelajaran bermutu (efektif), menyenangkan, dimana siswa berperan sebagai pemain utama dalam proses belajar atau tidak? Jika jawabnya TIDAK, karena alasan ketidak tepatan pemanfaatannya atau bahkan karena alasan ketiadaan teknologinya itu sendiri atau karena keterbatasan teknologi itu ketika dimanfaatkan (seperti ketiadaan listrik, mahalnya bandwidth, kecepatan banddwidth yang tidak memadai, dll), maka hanya akan menjadi bumerang. Uang yang harus dikeluarkan besar, usaha yang harus dilakukan oleh guru besar, tapi dampaknya tidak ada. Maka, hasilnya akan sia-sia.
Sebagai ilsutrasi ekstrim saya berikan contoh seperti ini:
Kisah #1:
Suatu ketika, di SD XYZ yang berada di kota besar. Sekolah tersebut telah memiliki perlengkapan teknologi canggih, yaitu sebuah LCD Projector, dan Laptop untuk diguanakan guru dalam mengajar. Suatu ketika sang guru mau mengajar IPA yang maksud hatinya ingin mengajarkan konsep zat padat, cair dan gas. Dengan kemampuannya membuat slide presentasi dengan MSPowerPoint, masuklah ia ke kelas dan menyajikan materi pembelajaran menggunakan LCD projector, laptop dan slide presentasi tersebut. Ia sajikan dengan metode presentasi dan sedikit tanya jawab.
Kisah #:
Disuatu tempat nun jauh di pelosok pedesaan. Seorang guru SD mau mengajarkan hal yang sama. SD tersebut, tidak memiliki teknologi canggih. Listrik saja belum masuk, apalagi komputer. Untuk membelajarkan konsep zat padat, cair dan gas ia menggunakan beberapa metode yaitu simulasi dan diskusi dilengkapi dengan media sebenarnya (relia) dengan sumber belajar yang ada di sekitar sekolah. Ia ajak siswanya pergi keluar kelas. Di lapangan yang teduh karena terlindung oleh pepohonan besar dan tinggi, sang guru membagi kelas kedalam tiga kelompok. Kelompok pertama diminta untuk saling berpegangan erat sekali. Kelompok kedua, diminta untuk saling bergerombol rapat. Kelompok ketiga diminta untuk bergerombol, tapi agak renggang. Kemudian, san Guru meminta seorang anak untuk menerjang kelompok pertama, berkali-kali. seorang anak lain diminta untuk melakukan hal yang sama untuk kelompok kedua, dan seorang yang lain untuk kelompok ketiga. Setelah itu, guru meminta setiap kelompok untuk duduk lesehan. Setiap kelompok diminta untuk mengungkapkan apa yang terjadi. Guru memandu diskusi. Setelah kurang lebih 20′ diskusi guru meminta anak untuk melihat sekitar, dan mencari sebanyak-banyaknya benda disekitar dan menggolongkannya kedalam man yang kategori cari, gas dan padat. Kemudian dibahas kembali kenapa mereka mengkategorikan ke zat padat, cair dan gas. Begitu seterusnya.”
Pertanyaan saya, “diantara kedua kisah di atas, manakah yang menurut Anda yang paling efektif dan menyenangkan pembelajarannya?” Saya yakin, Anda akan menjawab Kisah #2 lah yang paling efektif dan menyenangkan walaupun tanpa ditunjang teknologi canggih/maju. Guru pada kisah #2 adalah seorang teknolog pendidikan yang sejati.
Apa hikmah dibalik dua kisah ini untuk kita?
Pertama. Ketika bicara teknologi, persepsi jangan selalu beranggapan bahwa teknologi itu adalah perangkat keras (hard technology). Tapi, bahwa kita jangan lupakan teknologi lunak (soft-technology) yang akan menyertai keberhasilan penerapan teknologi keras. Apakah contoh soft-tech tersebut? metode, cara, strategi penggunaan yang tepat, itulah softech. Pada kisah pertama, memang guru tersebut menggunakan teknologi, tapi dia lebih menegdepankan hard-tech tanpa ditunjang oleh softech yang tepat dan memadai untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Pada kisah kedua, guru tersebut menggunakan teknologi yang tepat, relevan, tapi juga sesuai dengan keadaan. Hardtech yang Ia gunakan berupa benda sebenarnya sementara sof-tech yang ia gunakan adalah strategi pembelajaran (metode simulasi, kerja kelompok, diskusi dll yang lebih cenderung bersifat stucent-centered). Hasilnya? Tentu akan lebih efektif dan tetap menyenangkan.
Kedua, “technology is not the end, it’s a tool to meet the end“, begitu kata orang kulon. Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa teknologi berpengaruh terhadap hasil belajar, yang ada adalah ketepatan pemanfaatan teknologi itulah yang memberikan pengaruh atau perbedaan terhadap hasil belajar.
Ketiga, apapun teknologinya, maka tujuan utama pembelajaran adalah diperolehnya “pengalaman belajar pada diri siswa”, mereka harus mengalami (melihat, mendengar, merasakan, melakukan, mengulang, dll), dan lebih bersifat student-centered. Dengan kata lain, ada seribu satu metode pembelajaran, ada seribu satu macam teknik pembelajaran, dan lain-lain yang bisa dipilih dan diterapkan secara tepat sesuai dengan tujuan dan kondisi yang ada. Namun, ketika saya coba tanya guru-guru ketika melakukan pelatihan, mereka kebanyakan menguasai hanya dua sampe empat metode pembelajaran. Kasihan …..
Itulah sebabnya, ketika saya diminta bicara apapun dan dimanapun terkait dengan TIK untuk pendidikan, hal tersebut seperti di ataslah yang selalu saya tekankan. Saya sepakat mas, ketepatan penggunaan teknologi itulah yang paling penting. Bicara teknologi bukan berarti teknologi canggih, jang juga melupakan soft-technology sehingga mengedpankan hard-technology.
SELAMAT BERDJOEANG!
Viewed 233 times by 106 viewers







share