» Posisi dan Peran Teknolog Pembelajaran
-
Tanggal 2 Nopember ini, adalah kebahagiaan kembali bagi saya karena dapat bertemu dengan TPers Universitas Pendidikan Ganesha, Buleleng, Bali dalam rangka Seminar Nasional Peningkatan Teknologi Pendidikan menuju Pengembang Teknologi Pembelajaran yang Profesional. Kali ini saya ingin berbagi tentang posisi dan peran teknolog pembelajaran dalam dunia pendidikan khususnya dalam konteks Indonesia tentunya. Ada beberapa issu yang saya angkat dalam seminar tersebut. Pertama, pertanyaan tentang siapakah kita? Dalam hal ini teknolog pembelajaran itu bidang garapannya apa saja. Namun, issu ini saya “keep” dulu untuk dijadikan sebagai kesimpulan alias penutup. Issu utama yang saya angkat adalah dimulai dari fenomena atau problematika penerapan ICT untuk pendidikan secara khusus dan problematika pembelajaran secara umum yang terjadi dalam konteks Indonesia yang dilanjutkan dengan diskusi contoh posisi dan peran teknolog pembelajaran didalamnya. Intinya adalah dua issu tersebut. Mengenai problematika, issu yang saya angkat adalah sebagai berikut:
1. Masalah Televisi
Dari sekian banyak channel televisi khususnya TV komersial, lebih mengutamakan fungsi entertainment dan fungsi informasi ketimbang fungsi edukasi. Sebagai contoh, televisi dipenuhi oleh informasi tentang gosip dan berita-berita kelas picisan seperti masalah, selingkuh, percerian, poligami, perampokkan dan lain-lain. Begitu pula sinetron. sinetron adalah guru paling jahat, karena yang ditampilkan adalah tangis, marah, gaya hidup mewah yang kadang-kadang tidak realistis dan logis dalam konteks realita kehidupan senyatanya. Dalam konteks ini, teknolog pembelajaran tentunya mendapat posisi dan peran dalam mengembangkan program-program televisi yang lebih bersifat edukatif dan sekaligus menghibur. Posisi teknolog pembelajaran, kalau mengacu pada kawasan dan atau bidang garapan teknologi pendidikan, bisa sebagai desainer (penggagas ide, penulis naskah, dll), pengembang (pengarah/sutradara, editor, dll), pengelola, pemanfaat dan evaluator. Diharapkan, teknolog pembelajaran secara kolaboratif dengan team lain dapat menghasilkan produk program televisi yang edukatif sekaliber Sesame Street, Tele Tubbies, Aku Cinta Indonesia (ACI), Keluarga Cemara, Kiamat Sudah Dekat, Dora Explorer, Ipin dan Upin dan lain-lain.
2. Masalah Pemanfaatan Teknologi Mobile (HP)
Pengguna HP di Indonesia cukup besar, hampir 140 jutaan, lebih besar dibandingkan dengan pengguna internet yang mungkin hanya 20% dari jumlah penduduk Indonesia. Tapi apa yang terjadi? Seharusnya dapat kita manfaatkan untuk mobile learning (ML), tapi yang terjadi adalah mobile leisure. Misal, SMS digunakan untuk poling KDI, ring tones, ramalan jodoh, dan lain-lain. Teknolog pembelajaran memiliki posisi dan peran dalam mengembangkan mobile learning, baik dari sisi kawasan desain, pengembangan, pengelolaan, pemanfaatan dan evaluasi.
3. Masalah terkait dengan multimedia
Multimedia banyak disalah gunakan oleh kalangan siswa, bahkan dari SMP hingga mahasiswa untuk hal yang tidak senonoh. Teknolog pembelajaran, sebenarnya memiliki posisi dan peran sebagai pengembang multimedia pembelajaran yang bermutu. Tentu saja bekerjasama dengan pihka lain.
4. Masalah terkait level pemanfaatan ICT di Sekolah
Jika mengacu pada level pemanfaatan ICT di sekolah, maka Indonesia masih dalam tahap applying menuju integrating. Artinya apa, ICT dalam konteks pembelajaran di sekolah masih dijadikan sebagai obyek yang dipelajari alias menjadi mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Hal ini ditunjukkan dengan masuknya mata pelajaran TIK dalam kurikulum nasional. Karena hal ini, maka Indonesia membutuhkan banyak tenaga guru TIK di sekolah. Jika ini dianggap sebagai peluang, maka ini adalah peluang besar bagi almuni TP untuk menjadi guru TIK. Namun sayang, hal ini belum menjadi perhatian besar dari pengambil kebijakan. Pengalaman saya memberikan pelatihan TIK untuk guru-guru TIK di Indonesia, masih banyak guru TIK yang memiliki latar belakang dan kompetensi yang bukan dalam bidang TIK. Misalnya, guru matematika atau agama merangkap sebagai guru TIK. Tentu saja, jika telah bekerja di sekolah tidak hanya sekedar menjadi guru TIK, tapi menjadi model guru yang menerapkan teknologi pendidikan dengan baik. Disamping itu, dapat pula memberdayakan diri sebagai pengelola learning resources center dengan segala macam jenis tugas dan fungsinya. (Anda sebagai TPers tentunya sudah tahu apa itu pusat sumber belajar dan pengelolaannya. Ga harus dibahas disini).5. Masalah terkait problematika pembelajaran di sekolah
Pembelajaran di sekolah, secara umum, fakta yang terjadi adalah masih bersifat teacher-centered. Dimana guru masih menjadi pemain utama, sementara siswa menjadi penonton utama (datang, duduk, catat, dengar, ujian, lulus/tidak). Nah, teknolog pembelajaran memiliki posisi dan peran disini dalam meningkatkan efektifitas, efisiensi dan kemenarikan pembelajaran. Di sekolah, peran teknolog pembelajaran menjadi change agent untuk hal ini. Ketika berperan sebagai desainer pembelajaran, teknolog pembelajaran berperan dalam menyusunKTSP yang baik, menyusun silabus dan RPP yang baik, menyusun strategi pembelajaran yang menarik, menyiapkan lingkungan belajar yang kondusif. tentu saja bekerjasama dengan stakeholders terkait, khususnya guru yang lain. Begitu pula dari sisi kawasan pemanfaatan, teknolog pembelajaran dapat berperean dalam memilih, menentukan dan menerapkan media pembelajaran yang relevan untuk kebutuhan pembelajaran tertentu. Begitu pula halnya dari sisi kawasan pengembangan, pengelolaan dan evaluasi.
6. Masalah terkait eLearning
eLearning telah menjadi trend pembelajaran abad 21. Bidang ini merupakan peluang tersendiri bagi para teknolog pembelajaran. Dari sisi kawasan desain, teknolog pembelajaran berperan dalam mekalukan analasisi kebutuhan eLearning, desain sistem pembelajaran eLearning, dll. Dari sisi kawasan pengembangan, teknolog pembelajaran dapat berperan sebagai pengembang eLearning content atau lebih dikenal sebagai learning object (baik yang bersifat text-based maupun multimedia-based). dari sisi pengelolaan, teknolog pembelajaran berperan dalam mengelola eLearning baik dalam institusi sekolah maupun corporate.
7. Masalah terkait dengan pembealajaran dalam level organisasi
Dewasa ini, suatu organisasi atau perusahaan (corporate) dituntut untuk menjadi suatu organisasi yang belajar (learning organization) yang senantiasa harus mampu meningkatkan dirinya secara trus menerus dengan memberdayakan berbagai aspek. dalam hal ini, teknolog pembelajaran berperan sebagai seorang teknolog kinerja. Ia berperan dalam menganalisis masalah, mengidentifikasi penyebab masalah, memilih dan menentukan intervensi yang bersifat instructional maupun non instruksional, melakasanakan dan mengevaluasi intervensi serta melakukan perbaikan terus menerus.
Dari semua hal itu, intinya memang teknolog pembelajaran tidak bekerja sendiri. tapi bekerjasama dengan stakeholders lain diantaranya adalah ahli media, ahli kurikulum, ahli materi, serta ahli-ahli dari profesi lain. Jadi, dalam prakteknya harus terjadi konvergensi profesi.
Presentasi secara keseluruhan dapat Anda download disini: Teknolog Pembelajaran dan TIK











November 2nd, 2009 at 8:09
Terima kasih pak.
Re: “Nah, teknolog pembelajaran memiliki posisi dan peran disini dalam meningkatkan efektifitas, efisiensi dan kemenarikan pembelajaran.”
Di mana buktinya? Saya belum ketemu hasil penelitian di sini?
Dari penglalaman saya di luar negeri kebanayakan pendidik yang dulu (10-15 tahun yang lalu) percaya notion ini sudah balik ke pembelajaran kontekstual di kelas sekarang (Student Centred).
Peran teknologi canggih adalah sangat kecil.
Re: “kemenarikan” – ya tetapi dapat cepat membosankan juga.
Bukan notion ini adalah ketinggalan zaman?
Salam Pendidikan
November 2nd, 2009 at 9:33
salam TP mas,tgl 2nov ini jg tgl yg membahagiakan saya,dengn membaca artikel ini saya seperti dibangunkan dari tidur (lupa klo sy anak TP),memang apa yg ditulis mas uwes merupakan gambaran aplikasi TP seharusnya d lapangan,khususnya d sekolah,sy meraskan sendiri,kurangnya perhatian dari seluruh komponen sekolah yang sangat dibutuhkan untuk lebih membumikan efektifitas dan efisiensi penggunaan ICT yg optimal,apalagi untuk sekolah yg banyak memiliki keterbatasan dan kebanyakan mereka menganggap ICT adalah komputer jad, terus terang saya masih mengikuti aturan main di sekolah.
November 2nd, 2009 at 11:14
Retorikanya memang banyak, di luar negeri dulu juga begitu.
Di mana buktinya?
Dengan rasio: “Sekarang Satu Komputer Untuk 2.000 Siswa” dan “dari jumlah total yang mencapai 200.000 sekolah, sekitar 182.500 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA se-Indonesia belum terakses internet”, jelas TIK bukan solusinya sekarang, kan?
Dari yang saya mendengar…. program-program baru yang mau dilaksanakan juga hanya dapat paling menyampaikan cukup komputer untuk Mata Pelajaran TIK (kalau dicapaikan). Bagaimana sekolah-sekolah di desa dapat melaksanakan Pembelajaran Berbasis-TIK. Kita harus mengarah ke pendidikan yang bermutu untuk semua, kan?
Mengapa Pendidikan Berbasis-TIK tidak dilakasanakan di sekolah secara umum di negara maju? Memang sudah dicoba?
Kalau lewat (memperluaskan) Internet, bukankah banyak masalah yang harus dihadapi?
http://E-Pendidikan.Com
November 3rd, 2009 at 3:25
Saya melihat di Facebook Pak Uwes Anis Chaeruman ada link ke “Dukung Bpk Dr. H. Arief Rachman, M.Pd tuk Mendiknas 2009-2014!”
Dulu saya bekerja bersama Pak Arief Rachman di Depdiknas dan saya juga pernah sebut nama beliau sebagai Mendiknas di acara TV sebelum pilihan Mendidknas (Hari Pendidikan – sebelum periode ini). Jelas saya mendukung beliau.
Mengapa? Pak Arief Rachman tahu bedanya Sekolah Yang Baik (efektif) dan Sekolah Yang Kurang Baik (kurang efektif). Berarti beliau tahu apa yang kita harus melaksanakan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Beberapa kali saya menjadi ko-presenter bersama beliau. “Tip Gratis”: Kalau anda menjadi Ko-presenter bersama Pak Arief Rachman sebaiknya presentasi anda dulu ya! “He’s a hard act to follow” Maksud saya, karena beliau termasuk presenter yang sangat hebat, yaitu sulit mendapat perhatian peserta lagi setelah presentasi beliau
Selama saya bekerja bersama beliau saya sering mendengar beliau membahas hal-hal yang penting untuk menjadi Sekolah Yang Baik (sekolah efektif), dan selama itu saya tidak pernah mendengar beliau sebut Teknologi Pendidikan Canggih.
Mengapa ‘Lab School’ menjadi sekolah yang termasuk “The Best”? Apa sebabnya karena mereka memakai teknologi canggih? Pikir lagi…..
Apa isu-isu terpenting untuk sekolah efektif (original doc)?
Membaca “Faktor-Faktor yang Menetapkan Efektivitas Sekolah” Mereka tidak sebut Teknologi Pendidikan sebagai faktor sama sekali. Mengapa? Mengapa TP Canggih bukan prioritas utama di luar negeri?
http://teknologipendidikan.com/quality.html
Membaca: “Apa itu Pendidikan Yang Bermutu?”
Definisi untuk pendidikan yang bermutu dari UNICEF
Apakah mereka sebut Teknologi Pendidikan sebagai isu penting? Apakah mereka sebut Teknologi Pendidikan?
http://teknologipendidikan.com/kbm.html
Isu-isu yang disebut adalah isu-isu yang jauh lebih penting (Prioritas #1) dan harus dijaminkan untuk semua anak-anak di Indonesia sebelum memikirkan isu-isu teknologi. Kalau ini sudah dicapapaikan di semua sekolah di Indonesia kita sudah mulai menuju mutu pendidikan kelas dunia.
Kita perlu tanya “Apa bedanya Sekolah Bermutu dan Sekolah Yang Kurang Bermutu – Jawabannya bukan Teknologi Pendidikan Canggih.
Kalau semua sekolah sudah bermutu dan baik, tambah teknologi bukan masalah.
Salam Pendidikan
November 3rd, 2009 at 9:29
permasalahan yang ada di derah adalah belum adanya lembaga2 atau intansi (sebagi contoh pusat sumber belajar, BPMR, dll) yang mampu menyerap lulusan TP berbeda situasinya dengan kota-kota besar, sehingga permasalahan yang dihadapi oleh alumni TP di daerah (sebagi contoh lulusan TP Undiksha Singaraja) adalah tidak terserapnya mereka di nunia kerja, sehingga mereka sangat berharap untuk bisa menjadi PNS di sekolah-sekolah. Pertanyaannya:
1). apakah bisa menjadi PNS?
2). bagaimana cara mengubah mine set mahasiswa dari
keinginannya yang begitu kuat untuk menjadi PNS?
November 3rd, 2009 at 10:58
Saya sepakat dengan Anda. Tapi, jangan pula ketika Anda mendengar istilah teknologi pendidikan, lantas Anda berpikiran teknologi canggih. Kalo Anda perhatikan apa yang saya sampaikan dalam seminar dengan para guru, justeru saya mengharapkan terjadinya proses pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan walaupun dengan sumber belajar seadanya, jangan sampai ter-kooptasi oleh teknologi canggihnya itu sendiri. Metode pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, itu juga teknologi pendidikan. Jadi, teknologi pendidikan, tidak serta merta bicara teknologi canggih. Teknologi pendidikan adalah cabang ilmu yang mengkaji masalah-masalah cara membelajarkan manusia. Coba Anda lihat tulisan saya tentang apa itu ontologi pendidikan (http://fakultasluarkampus.net/2007/07/apa-ontologi-teknologi-pendidikan/) atau lihat tulisan lain tentang definisi teknologi pendidikan sebagai disiplin ilmu … Sebagai catatan untuk Anda, S2 dan S3 Dr. Arief Rachman adalah Teknologi Pendidikan, S1 beliau adalah Pendidikan Bahasa Inggris. Dan memang apa yang ia sampaikan sebagai pembelajaran yang efektif adalah memang teknologi pendidikan.
November 3rd, 2009 at 11:28
Terima kasih pak, saya senang sekali.
Dulu (tahun 80an kalau tidak salah) saya senang nonton program bahasa Inggris Pak Arief di televisi (memang teknologi pendidikan), itu sebabnya bahasa Inggrisku sudah lumayan
Semoga sukses!
November 4th, 2009 at 2:12
mas minta artikel tentang menyusun strategi pembelajaran dong,mkash
November 7th, 2009 at 3:17
@Mas Kadek: 1) Lulusan TP mempunyai peluang dimana saja, termasuk PNS. Seperti yang saya sampaikan dalam seminar tersebut, bisa di persekolah (swasta/negeri), di pemerintahan (PNS), di perusahaan (corporate), atau dalam masyarakat sepert LSM dan lain-lain sejauhb pekerjaanya terkait dengan upaya memecahkan masalah belajar dan peningkatan kinerja. 1) Mengubah mindset dapat dilakukan dengan pertama, refleksi diri, apa iya harus PNS? Justerudi wilayah PNS peluang TP lebih sempit ketimbang non-PNS. Kalaupun ada penerimaan, pasti porsinya sangat sedikit. Bahkan, negeri ini hancur, karena salah satunya adalah oleh kebanyakan PNS dan panjangnya birokrasi. Bener Ga? Sebagai catatan, ssaya juga PNS…
December 23rd, 2009 at 11:30
yup..bukannya kalo non-PNS malah lebih bebas tuk mengimplementasikan teknologi pendidikan yah?
yang penting bukan PNS or Non-PNSnya buakan? mau atau tidak mau aja kan..
nb: Cool..role model daku kenapa I choose TP is Mr.Arief Rachman..saat daku SMA (kebetulan sempat merasakn beliau jadi KepSel), I feel school is great!…fun!.. dan tidak merasa terkukung..