» Technology: antara HardTech vs SoftTech …
-
Suatu ketika, 9 Januari 2010, dalam suatu acara seminar di Universitas Batu Raja, Batu Raja, Palembang, saya bertanya pada seorang peserta, ibu-ibu yang juga seorang guru.
“Ibu, tahu yang namanya periuk dan atau kompor?” Dia menjawab, “Tahu banget”.
“Kompor dan atau periuk itu teknologi atau bukan? Dia menjawab teknologi.
“Bagus”, saya bilang. Kemudian saya bertanya lagi, “Ibu tahu caranya atau resep membuat sayur asem dengan menggunakan kompor dan periku tersebut?” Kembali ia menjawab, “Tahu persis.”
Saya bertanya kembali, “Kalau periuk dan atau kompor Ibu sebut sebagai teknologi, maka apakah cara/resep membuat sayur asem yang enak itu teknologi atau bukan?”
Untuk pertanyaan yang satu ini, Ia terhenyak diam, menatap saya kebingungan sambil sedikit menggelengkan kepala.
Saya kira ini adalah sesuatu yang alami. Karena, ketika ditanya tentang teknologi, maka secara sadar atau tidak yang terbayang dimata kebanyakan orang (awam) adalah benda kasat mata/keras (hard technology). Padahal ada satu makhluk yang tidak kasat mata/lunak yang juga adalah teknologi, namanya soft technology. Jadi, yang namanya teknologi bisa dipandang sebagai proses atau produk. Yang kasat mata dan keras itulah yang disebut teknologi sebagai produk (hard technology), sementara yang tidak kasat mata (soft) itulah yang disebut teknologi sebagai proses (soft technology). Teknologi juga bisa dipandang sebagai alat (hardtechnology) atau metode (softtechnology). Oleh karena itu periuk atau kompor bisa dikatakan sebagai teknologi untuk membuat sayur asem. Begitu pula dengan resep/cara membuat sayur asem adalah juga teknologi untuk membuat sayur asem.
Permasalahan berikutnya adalah, apakah dengan teknologi lebih modern (kompor gas dan periuk alumunium), dapat menghasilkan sayur asem yang enak? Makanya belum tentu, kalau tidak ditunjang dengan cara/resep memasak sayur asem yang tepat. Bahkan, walau hanya dengan teknologi tradisional (tungku dari kayu dan periuk dari tanah liat), justeru dapat menghasilan sayur asem yang enak karena ditunjang oleh cara/resep memasaknya yang tepat.
Ilustrasi di atas menunjukkan dua hal sebagai kesimpulan:
- suatu teknologi tidak akan berhasil guna jika antara hard technology dengan soft technologynya tidak seiring sejalan (tidak relevan/tepat)
- soft technology yang inherent pada diri orang (man behind it), lebih memainkan peran penting ketimbang hard technology-nya itu sendiri. Ibarat kata, bukan senjatanya yang ampuh. Tapi, kemampuan orang menggunakan senjata dengan baiklah yang membuat senjata itu ampuh sesuai tujuan yang diinginkan pemegang senjata tersebut.
Kenapa saya membuat ilustrasi seperti di atas, sebagai pembuka materi seminar saya tentang pemanfaatan ICT untuk pembelajaran? Saya hanya ingin menekankan bahwa teknologi dalam arti hard technology hanyalah sebagai alat, soft technology yang inherent pada diri seorang guru (tanpa bisa digantikan oleh apapaun) yang lebih menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran.
Dalam konteks pembelajaran, ketika berbicara teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi, yang saya lihat dan rasakan lebih cenderung berfokus pada hard technology seperti komputer, internet, dan software penunjang lainnya. Lupa pada soft technology pembelajaran itu sendiri seperti metode pembelajaran yang tepat, teknik bertanya, teknik memfasilitasi pembelajaran dan lain-lain.
Dalam era informasi dewasa ini, ICT sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita, termasuk pendidikan. Jangan sampai terjadi jika suatu ketika sekolah dilengkapi dengan hard technology yang terkini, modern dan mahal, tapi tidak ditunjang oleh softtechnology (kemampuan guru) dalam hal memfasilitasi pembelajaran yang relevan dengan berbagai strategi/metode yang tepat. Maka hanya akan menhasilkan sekolah mahal tapi sia-sia. Juga, sebaliknya. Walaupun tidak ditunjang oleh hardt technology yang maju, modern, dan mahal, pembelajaran tetap akan lebih menarik, menyenangkan, efektif dan efisien jika pada diri guru memiliki soft-technology yang beragam dan tahu kapan menggunakannya secara tepat.
Saya jadi ingat tema film “Ninja Assassin” yang bertemakan no fear the weapon, but the man who whield it. Kira-kira begitu, jangan takut pada senjatanya, tapi takutlah pada orang yang mengendalikan senjata tersebut. Bukan senjatanya (hard technology)-nya yang ampuh sebenarnya, tapi soft-technology, yaitu kemampuan orang memanfaatkan senjata itulah yang menyebabkan keampuhan penggunaannya sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Mudah-mudahan Anda paham apa yang saya maksudkan. Agar lebih seru sebaiknya, Anda baca juga yang satu ini: ICT, IcT, IT or iCt?
SELAMAT BERDJOEANG











January 26th, 2010 at 2:13
maydina like this… stuju ama bapak..
teknologi sebagai soft adalah proses.. tapi kadang kenapa tidak sedikit juga ada produk teknologi yang mubazir yah?