» Learning
-
Mas Phillip benar, saya sepakat dengan dikau
By Uwes A. Chaeruman on November 3rd, 2009 | 1 Comment
Mas Phillip, sautu ketika memberikan komentar dalam salah satu tulisan saya. Salah satu komentarnya adalah seperti ini: Dengan rasio: “Sekarang Satu Komputer Untuk 2.000 Siswa” dan “dari jumlah total yang mencapai 200.000 sekolah, sekitar 182.500 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA se-Indonesia belum terakses internet”, jelas TIK bukan solusinya sekarang, kan? Dari yang saya mendengar…. program-program baru yang mau dilaksanakan juga hanya dapat paling menyampaikan cukup komputer untuk Mata Pelajaran TIK (kalau dicapaikan). Bagaimana sekolah-sekolah di desa dapat melaksanakan Pembelajaran Berbasis-TIK. Kita harus mengarah ke pendidikan yang bermutu untuk semua, kan? Mengapa Pendidikan Berbasis-TIK tidak dilakasanakan di sekolah secara umum di negara ... Read more » -
Bagaimana Siswa Belajar
By Uwes A. Chaeruman on September 28th, 2009 | No Comments
Adalah M. Suzanne Donovan, John D. Bransford, dan James W. Pellegrin melakukan survey hasil-hasil penelitian terkait dengan bagaimana siswa belajar dan apa implikasinya terhadap pembelajaran di kelas. Semuanya ia tuangkan dalam satu buku berjudul, "How People Learn: Bridging Research and Practice". Penelitian tersebut menghasilkan beberapa temuan kunci sebagai berikut: Students come to the classroom with preconceptions about how the worldworks. If their initial understanding is not engaged, they may fail to grasp the new concepts and information that are taught, or they may learn them for purposes of a test but revert to their preconceptions outside the classroom. (Siswa datang ke ... Read more » -
Terbentuknya Pengetahuan
By Uwes A. Chaeruman on September 15th, 2009 | 1 Comment
Sepulang dari Korea, temen-temen nanya oleh-olenya mana? Padahal saya dah kasih itu oleh-oleh dalam bentuk tulisan. Oleh-oleh pertama adalah tulisan yang sangat inspiratif b'judul Belajar dari Korea Selatan. Nah, oleh-oleh kedua adalah tulisan sederhana yang satu ini tentang bagaimana sebenarnya pengetahuan itu terbentuk? Begini, kawan-kawan. Pada dasarnya kita memiliki dua tipe pengetahuan yaitu (1) pengetahuan yang terisrat (tacit knowledge) dan (2) pengetahuan yang tersurat (explicit knowledge). Sederhananya begitu. Sebelum kita bahas lebih jauh, sebaiknya kita ucapkan terima kasih dulu yang sebesar-besarnya kepada dua orang penulisnya, yaitu Nonaka dan Takeuchi (1995), semoga amal jariyah ini tetap mengalir pada keduanya. Terbentuknya pengetahuan itu ... Read more » -
Learning Condition Theory [Robert Gagne]
By Uwes A. Chaeruman on February 10th, 2009 | No Comments
Siapa yang tidak kenal dengan Robert Gagne. Ia adalah seorang ahli psikologi pendidikan dengan teorinya yang terkenal yaitu Condition of Learning. Teorinya menjelaskan tiga hal, yaitu taksonomi hasil belajar, kondisi belajar khusus, dan 9 peristiwa pembelajaran. Mbah Bloom, mengkategoikan taksonomi hasil belajarnya kedalam tiga ranah, kognitif, psikomotorik dan afektif. Taksonomi ranah kognitif dibuat sendiri oleh Bloom, sementara ranah afektif dibuat bekerjasama dengan Masia dan ranah psikomotorik dibuat bersama Simpson. Beda dengan Bloom, Mbah Gagne mengkategorikan taksonomi hasil belajar dalam lima komponen, yaitu: informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan motorik. Jadi, tiga ranah dalam taksonomi Bloom tercakup semua disini. ... Read more » -
Blogging = Learning
By Uwes A. Chaeruman on January 23rd, 2009 | 3 Comments
B = L. ha ha ha :), mana bisa B sama dengan L. Tentu saja bisa, karena dengan B alias Blogging membuat kita L alias learning. Tidak percaya, segera Anda buktikan dengan cara "NgeBlog" mulai saat ini juga. Dalam konteks Islam ada hadits yang mengatakan, "TUNTUTLAH ILMU SEJAK DALAM BUAIAN SAMPAI KE LIANG LAHAT". Kira-kira begitu. Artinya apa, agama, saya kira agama apapun menuntut kita untuk belajar terus sepanjang hayat. Kalo kata orang kulon mah Long Life Learning lah namanya. Dalam konteks Islam juga, yang namanya sumber belajar atau sumber ilmu itu, ketika kita nanti keluar dari alam dunia yang fana ... Read more » -
Behavioristik – Kognitifistik – Konstruktivistik
By Uwes A. Chaeruman on January 16th, 2009 | No Comments
Sebenarnya, teori belajar iti banyak. Tapi jika disederhanakan ada tiga kontinum besar teori belajar, yang sering kita kenal yaitu behaviorisme, kognitif-konstrultivisme, dan sosial-konstruktivisme. Apa perbedaan antara ketiganya? Berikut adalah penjelasan singkat tentang hal tersebut. Behaviorisme Kognitif- Konstructivisme Sosial-Konstructivisme Pengeahuan: gudang respon prilaku terhadap rangsanagan lingkunan secara aktif terbangun berdasarkan struktur yang telah ada pada peserta belajar dibangun secara sosial Belajar terjadi secara pasif, melalui penyerapan pengetahuan oleh siswa yang ditingkatkan melalui repetisi dan renforcement positif. asimilasi dan akomodasi aktif dari informasi baru kedalam struktur kognitif yang telah ada. Ditemukan dan dibangun oleh peserta belajar. asimilasi dan akomodasi kolaboratif informasi baru yang diintegrasikan dalam pengetahuan komunitas. Motivasi Extrinsik: melalui reward dan hukuman Intrinsik: peserta belajar ... Read more » -
Modalitas Belajar dengan e-Learning
By Uwes A. Chaeruman on November 24th, 2008 | 13 Comments
Iseng-iseng, saya baca buku e-learning guidebook: principle, procedures and practice, karya Som Naidu, Ph.D. Lumayan buat pencerahan. Sebagaian ingin saya share disini. Bagaimanakah aktifitas belajar dalam konteks e-learning itu terjadi? e-Learning, sebenarnya lebih besar dari sekedar belajar secara online. Menurut mbah Badrul Khan, e-learning memiliki karakteristik open alias terbuka, fleksibel dan distributed. Disamping itu, e-learning bisa terjadi secara online, offline (walau dengan hanya satu stand alone komputer), sinkronous (chatting, video conference), asinkronous (e-mail, milist, forum) baik secara individu maupun kelompok. Dengan demikian, modalitas aktifitas belajar dalam konteks e-learning dapat terjadi dalam empat bentuk: belajar mandiri secara online (individualized self-paced e-learning online); yaitu pebelajar ... Read more » -
Laskar Pelangi : Kontemplasi
By Uwes A. Chaeruman on October 20th, 2008 | 3 Comments
Saya termasuk orang yang kurang beruntung dalam nonton film heboh Laskar Pelangi. Kenapa? Karena sejak diluncurkan pada malam takbiran, belum memperoleh kesempatan waktu untuk bisa nonton pahit getirnya Lintang dalam menggapai cita. Baru kemarin sempat punya waktu dan kesempatan nonton di PIM bersama keluarga. Mengharukan sekaligus menggugah. Saya rekomendasikan agar Film tersebut menjadi tontonan wajib bagi para guru khususnya, dan siswa serta para orang tua pda umumnya. Saya merasa bahwa kasus Lintang dan pasukan Pelanginya, banyak terjadi di sekitar kita. Waktu kecil, saya sekolah di Sekolah Dasar yang walaupun SD INPRES waktu itu, kondisinya masih bealaskan tanah, jendela bolong dan berdebu ... Read more » -
Pedagogy vs Andragogy
By Uwes A. Chaeruman on October 13th, 2008 | 6 Comments
Apa yang membedakan antara pedagogi dengan andragogi? Kenapa sebaiknya paradigma pendidikan harus berubah dari pedagogi ke andragogi? Mahasiswa sering menanyakan hal ini, dan penting sekali basic pemahaman tentang hal ini diberikan kepada mereka. Mari kita lihat perbedaan mendasar dari kedua paradigma pendidikan tersebut. Pertama, kita lihat dari sisi siswa atau pemelajar; dalam pedagogi, siswa sangat tergantung pada guru. Guru mengasumsikan dirinya bahwa ia bertanggung jawab penuh terhadap apa yang akan diajarkan dan bagaimana mengajarkannya. Gurulah yang mengevaluasi hasil belajar. Sementara dalam andragogi, siswa adalah mandiri (dialah yang mengarahkan dirinya untuk belajar apa dan bagaimana). Jadi, dialah yang bertanggung jawab ... Read more » -
Cognitive and Socio-Constructivism
By Uwes A. Chaeruman on October 10th, 2008 | No Comments
Topik ini adalah request dari pembaca bernama Liesn yang meminta rujukan terkai dengan socio-constructivism. Here it is Lies! mudah-2an membantu Anda :) Ide dasar konstruktifisme sebenarnya sederhana, yaitu bahwa pengetahuan manusia diperoleh dengan cara dibangun, bukan diajarkan, manusia itu sendiri yang membangun pengetahuannya. Oleh karenanya, pemelajar didorong untuk secara aktif membangun pengetahuan dalam situasi yang realistis dan kontekstual, daripada hanya sekedar menerima pengetahuan secara pasif dalam situasi yang formal, membosankan, dan ooc alias out of context. Oleh karena itu, dalam konteks konstruktifistik, peran guru tidak lagi sebagai information dispencer (pencekok informasi) tapi pembangun pengetahuan sebagai fasilitator untuk semua peserta didiknya. Pertanyaan dari ... Read more »











Recent Comments